Selalu ada perasaan berat setiap kali aku memutuskan untuk ikut ke acara salah satu keluarga yang terdiri dari tujuh anak yang masing-masing sudah memiliki setidaknya dua anak lainnya yang beberapa diantaranya juga sudah memiliki anak pula. I know that's a lot to process, but keep up with me.
Yang jadi masalah sebetulnya, seharusnya aku gak perlu merasa berat karena dirumah anak yang manapun acara keluarga ini diadakan—atau Aji dan aku biasa menyebutnya pertemuan—aku akan merasa seperti tinggal di surga untuk beberapa jam ke depan. gimana enggak, ukuran kamar yang paling “decent” di rumah keluargaku yang cukup sederhana itu bahkan gak ada seperempatnya ukuran ruang billiard milik keluarga Aji. Padahal, sepenting apa, sih, ruang billiard dibuat di rumah yang penghuninya bahkan hanya ketemu setiap empat atau lima bulan sekali?
“Kamu tahu apa yang lebih mengerikan dari serangan zombie diseluruh penjuru dunia?” katanya sambil membalut seluruh lengan nya dengan majalah yang ia temukan di lemari kaca rumah ini.
Lucu bagaimana minggu kemarin, kami masih berdebat tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan ketika kami pergi ke Ottawa minggu ini. Tapi kenyataannya, minggu ini, sekarang, kami malah terperangkap di rumah milik orang asing yang mungkin saja sekarang sudah menjadi bagian dari mereka.
Turut berduka cita untuk mereka. Semoga mereka mendapat akhir yang baik? Apa itu sebuah ungkapan yang benar untuk kuucapkan di keadaan seperti sekarang ini? Jika dipikir lagi, apa yang akan terjadi setelah seseorang menghabisi mereka hingga mereka tak lagi setengah-hidup (?) seperti sekarang? Aneh karena mereka, secara harfiah telah tidak memiliki nyawa, tetapi kami masih harus menghabisi mereka.
Dan setelah kami menghabisi mereka dengan sebenar-benarnya, akankah mereka mendapatkan tempat diatas sana seperti apa yang selalu dibicarakan oleh setiap orang taat di dunia ini?
And here we are now. At 9 almost 10 pm, cramped under the cheap seafood stall that has been one of our favorite places whenever we need to catch up on each other's life updates.
ever since you were moved out of town, we've barely had time to even say hi through text messages, yet every time we meet, you're still feel like the same person that understands me the most. im glad you still feel that way. but i know this night is different. though, im pretty sure that it'll bring me a tad bit of joy to see your face after a long time, im also aware that this night's going to be the night where i had my second biggest heartbreak.
never once at that time, crossed my mind, about me crying and praying for your happiness. how some nights i cried, because the world seems a bit too harsh on you.
how some other nights i cried, because the love that i have for you, becomes too much to the point i wanted to give you the world, but realized i couldn't do it cause im just a mortal.
people asked about what would i say to you if i ever meet you. i was thinking of a long speech, but then realized that i could just give them one simple answer.
“i want to look at them, and say, thank you. for staying strong. and for giving me the best time of my life.”
Saat itu adalah ulang tahunnya yang ke 19 tahun. Genap dua tahun lamanya ia bertarung melawan penyakit yang membuatnya lemah. Membuatnya kehilangan rambut hitam legamnya. Ia pernah berkata, satu-satunya hal yang lebih berharga dari sebongkah berlian adalah rambut hitam bergelombang miliknya. Tak pernah seharipun ia tidak memandangi rambutnya sambil berkata, 'oh, betapa beruntungnya aku'. Sampai akhirnya berita buruk itu datang. Berita buruk yang mengambil paksa satu-satunya hal yang paling ia banggakan.
Selama dua tahun berteman dengan obat-obat keras yang membuatnya merasa semakin lemah dibanding merasa lebih baik. Tetapi tak pernah sekalipun ia berpikir untuk menyerah. Ia terus bangkit.
Disitulah hebatnya ia. Sedikit lebih banyak dukungan dan perhatian yang diberikan padanya, sudah lebih dari cukup untuknya bertahan melewati pertarungan besarnya itu.
On June 7 we went to a local night festival near her house. Not as spectacular as Disneyland. We only spent $3 for the entrance ticket, but we were happy.
I remember she said,
“I never went to a place like this. Much less at night.”
“Unlike other kids, i had a lame, boring childhood,” she stopped and took a sip of her cold jasmine tea before continued,
“or miserable, or broken, i don't know, maybe all that i just mentioned.” patiently waiting for the fireworks, surrounded by people.
“I'll just spend my weekends and school holidays watching cartoons with my granny cause my parents were nowhere to be found.” she turned to me, with a smile on her face. She looked like someone who just won a lottery.
Michael Haneke once said,
people could feel happily melancholic sometimes.
I think that was what happened to her that night.
Right at eleven they finally set off the fireworks.
Made it explode with its distinctive noises.
Sent its color to the sky.
Sent its spark to my heart.
You looked graceful.
And i still remember how i realized that the fireworks weren't the only thing that exploded that night.
Memakai kemeja berwarna hitam yang baru saja selesai ku setrika sore ini, memikirkan jeans mana yang harus kugunakan agar setidaknya memberi sedikit nilai tambah pada penampilan ku yang, well, kau bisa bilang jauh dari kata feminine. Omong-omong saat ini aku sedang bersiap untuk pergi ke festival mingguan yang diadakan di kotaku. Setiap malam minggu, aku rutin datang ke festival itu, sekedar untuk membeli permen kapas, atau hanya untuk melihat segerombolan orang melepas penat mereka disana. Ada kesenangan sendiri untukku, melihat senyum mereka yang terlihat sangat lepas. Terutama bocah-bocah dengan tangan penuh, memegang hadiah dari permainan yang baru saja mereka menangkan, atau dengan mulut penuh makanan yang baru saja mereka beli. Aku selalu suka keramaian.
Sebetulnya ada satu alasan lagi. Bahkan yang satu ini dapat dibilang sebagai alasan utamaku rutin datang ke festival itu. Yaitu, keberadaan seseorang yang sedikit banyak membawa rasa senang untukku. Kebiasaannya yang akan datang tepat 25 menit setelah aku datang sepertinya cukup untukku mengingat-ingat dirinya ketika aku sedang melamun, atau ketika aku membersihkan gudang samping kamar bibi yang sudah penuh oleh debu.
Aku tidak tahu bagaimana awal kejadiannya. Saat itu, suatu hari dibulan May, dimana kami yang kebetulan bertemu di salah satu kedai ice cream dengan lampu besar diatasnya. Dia dengan baju berlengan panjang berwarna coklat dengan sablon smiley face di tengahnya, terlihat sepi dan menenangkan dalam waktu bersamaan. Aneh bagaimana seseorang bisa terlihat sebegitu sepinya ditengah keramaian festival yang memekakkan telinga. Dia yang aneh nya malah terlihat menarik untukku. Maka dari itu, aku memulai mengajaknya berbicara.
Seingatku begitu awal mula kami bisa mengenal satu sama lain dan berakhir dengan pertemuan rutin tiap minggunya di festival itu. Satu hal yang kusadari setelah sering kali bertemu dengannya adalah ia yang jauh berbeda dari kesan pertamanya. Tak disangka ia sungguh manis. Minggu lalu ia datang dengan satu tangkai bunga mawar yang ia petik sendiri dikebun tempatnya bekerja. Lain waktu ia membawa sebuah ukiran kayu membentuk huruf B yang mana huruf tersebut adalah huruf pertama dari namaku. Kayu tersebut terlihat rapi diatas meja tidurku.
Aku mengunci pintu ruang kerjaku dan bersiap untuk memulai mengerjakan semua tugas yang menungguku. Malam ini giliranku mendapatkan shift malam.
Sial. Rutuk ku.
Sebagai pegawai rumah sakit, mendapat shift malam adalah hal terburuk. Selain rasa malas yang terkadang melanda, image rumah sakit sebagai tempat yang menyeramkan terkadang sedikit mempengaruhiku.
Aku menyalakan televisi agar setidaknya ada suara yang menemaniku malam ini. Ya, aku sendirian. Setiap karyawan di unit kerjaku ini selalu sendiri ketika shift malam. Hal ini dikarenakan jumlah karyawan di unitku yang lebih sedikit dibanding unit lain.