raw & unedited
“Kamu tahu apa yang lebih mengerikan dari serangan zombie diseluruh penjuru dunia?” katanya sambil membalut seluruh lengan nya dengan majalah yang ia temukan di lemari kaca rumah ini.
Lucu bagaimana minggu kemarin, kami masih berdebat tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan ketika kami pergi ke Ottawa minggu ini. Tapi kenyataannya, minggu ini, sekarang, kami malah terperangkap di rumah milik orang asing yang mungkin saja sekarang sudah menjadi bagian dari mereka.
Turut berduka cita untuk mereka. Semoga mereka mendapat akhir yang baik? Apa itu sebuah ungkapan yang benar untuk kuucapkan di keadaan seperti sekarang ini? Jika dipikir lagi, apa yang akan terjadi setelah seseorang menghabisi mereka hingga mereka tak lagi setengah-hidup (?) seperti sekarang? Aneh karena mereka, secara harfiah telah tidak memiliki nyawa, tetapi kami masih harus menghabisi mereka.
Dan setelah kami menghabisi mereka dengan sebenar-benarnya, akankah mereka mendapatkan tempat diatas sana seperti apa yang selalu dibicarakan oleh setiap orang taat di dunia ini?
Kembali kepada saat sekarang. Aku pun akhirnya menanyakan kelanjutan ucapan nya tadi. “Apa?” jawabku singkat. Berusaha menyimpan tenaga sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya terkuras sampai habis nanti. Karena, satu detik setelah kami membuka pintu ini, maka tidak akan ada kata istirahat sebelum akhirnya kami menemukan tempat yang aman.
“Hal itu adalah, tidak bisa merasakan seluruh pengalaman ini, bersamamu. Dengan adrenalin mencapai puncak, siap untuk meledak kapanpun.” katanya. Dasar. Masih sempat-sempatnya dia menggombal disaat seperti ini.
“Ughh, itu lebih terdengar seperti ironi dibandingkan gombalan, dan itu sangat buruk.” kataku, mengernyit dan memutar bola mataku.
“Kau pikir begitu? kupikir juga begitu. seharusnya aku tidak mengatakannya tadi.” mengusap wajahnya, mengambil air yang hanya setengah gelas, sisa tadi pagi.
“Ya, itu sangat buruk. Bahkan ponakan ku yang berumur 8 tahun bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik daripada itu. Aku merindukannya.” jawabku. Aku sungguh merindukannya.
“Oke, sekarang serius. segera setelah aku membuka pintu ini, tidak ada diantara kita yang boleh berbicara, oke? Perhatikan langkahmu, walaupun diluar gelap, pendengaran mereka sangat tajam. Satu ranting terpijak dan kita tamat.” katanya sambil memegangi kedua bahuku.
“Ya, aku mengerti.” balasku tak kalah serius.
“Kita lakukan sesuai rencana. Dan Shane, kau terlihat super keren dengan rambut pendek seperti ini.” katanya mengedipkan sebelah mata dan mengambil kampak yang bersandar pada dinding rumah ini.
Apakah aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sangat menyukai warna rambutnya yang sekarang? Apakah harus kukatakan sekarang, atau nanti saja? Bagaimana jika tidak ada kata nanti? Bagaimana jika ditengah perjalanan nanti dia malah menjadi bagian dari mereka dan meninggalkanku sendiri? Apakah pada saat itu akan jadi lebih baik untukku menyerah dan mengikutinya saja?
Tuhan, aku memang bukan salah satu hambamu yang taat, tapi jika kau mencabut kebahagiaan seluruh kota, bisakah kau jangan cabut milikku juga?