from 19th to 20th

Saat itu adalah ulang tahunnya yang ke 19 tahun. Genap dua tahun lamanya ia bertarung melawan penyakit yang membuatnya lemah. Membuatnya kehilangan rambut hitam legamnya. Ia pernah berkata, satu-satunya hal yang lebih berharga dari sebongkah berlian adalah rambut hitam bergelombang miliknya. Tak pernah seharipun ia tidak memandangi rambutnya sambil berkata, 'oh, betapa beruntungnya aku'. Sampai akhirnya berita buruk itu datang. Berita buruk yang mengambil paksa satu-satunya hal yang paling ia banggakan.

Selama dua tahun berteman dengan obat-obat keras yang membuatnya merasa semakin lemah dibanding merasa lebih baik. Tetapi tak pernah sekalipun ia berpikir untuk menyerah. Ia terus bangkit. Disitulah hebatnya ia. Sedikit lebih banyak dukungan dan perhatian yang diberikan padanya, sudah lebih dari cukup untuknya bertahan melewati pertarungan besarnya itu.

Kami ingat bagaimana ia selalu berkata, 'aku akan sembuh, dan mengambil kembali mahkotaku dari mister jahat yang mengambilnya secara paksa'. Terdengar kekanakan, tetapi siapa kami berani mematahkan semangat yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu.

Di usianya yang ke 19 tahun, ia akhirnya berhasil memenangkan pertarungan itu. Kami ingat saat itu, suatu hari di bulan Desember, dengan langkah pasti dan tubuh berdiri penuh kepercayaan diri, ia berjalan melewati kumpulan pendukungnya yang berdiri di sepanjang salah satu koridor rumah sakit. Bersiap untuk melihat momen yang lebih membahagiakan dibanding pemandangan ratusan bintang yang menyala terang di malam hari. Dengan senyum di wajahnya yang masih terlihat pucat, tetapi hal itu tidak cukup untuk menutupi sinar kebahagiaan yang ia pancarkan kepada tiap-tiap kami. Tak ada satu tetes air mata pun yang ia keluarkan saat ia, pada akhirnya membunyikan bel tersebut. Bel yang menandakan bahwa perjuangannya melawan penyakit tersebut, untuk saat ini sudah benar-benar selesai. Walaupun tidak ada yang tahu pasti bagaimana kedepannya, tetapi yang jelas saat itu semua orang bergembira. Semua orang selain dirinya, menangis sambil bertepuk tangan untuknya.

Di usianya yang ke 20 tahun, sayangnya semua kebahagiaan itu lenyap. Kebahagiaan yang keberadaannya seperti sebuah mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi tetap dipercayai oleh banyak orang.

Tak lebih dari satu tahun setelah ia membunyikan bel, penyakit itu kembali lagi. Menyerangnya yang pada saat itu tidak memiliki kepercayaan diri sebesar yang sebelumnya. Ibaratnya, dirinya yang sedang berada di langit ke tujuh, terbang bebas bersama seluruh angannya, tiba-tiba ditarik turun secara paksa, membentur tanah yang kasar tiada dua. Tak ada lagi kata 'optimis' yang selama ini selalu melekat padanya. Dukungan dan perhatian yang lebih dari sebelumnya, bahkan tidak cukup untuk membuatnya bertahan melawan si mister jahat.

Pada usianya yang ke 20 tahun, impiannya untuk kembali memegang rambut hitam legamnya, akhirnya terhenti. Menguap bersama angan dan doanya, terbawa oleh angin yang berhembus tenang ketika semua orang menundukkan kepala mereka di depan tempat terakhir miliknya.