a tiny big house

Selalu ada perasaan berat setiap kali aku memutuskan untuk ikut ke acara salah satu keluarga yang terdiri dari tujuh anak yang masing-masing sudah memiliki setidaknya dua anak lainnya yang beberapa diantaranya juga sudah memiliki anak pula. I know that's a lot to process, but keep up with me.

Yang jadi masalah sebetulnya, seharusnya aku gak perlu merasa berat karena dirumah anak yang manapun acara keluarga ini diadakan—atau Aji dan aku biasa menyebutnya pertemuan—aku akan merasa seperti tinggal di surga untuk beberapa jam ke depan. gimana enggak, ukuran kamar yang paling “decent” di rumah keluargaku yang cukup sederhana itu bahkan gak ada seperempatnya ukuran ruang billiard milik keluarga Aji. Padahal, sepenting apa, sih, ruang billiard dibuat di rumah yang penghuninya bahkan hanya ketemu setiap empat atau lima bulan sekali?

Keluarga Aji sepertinya alergi sama yang namanya “tidak kaya”. Mama Aji tujuh bersaudara dan seluruhnya punya kekayaan yang cukup banyak untuk mereka bisa merasa tidak cemas akan masa depan hingga tujuh turunan atau bahkan lebih. Ketambahan papanya yang juga dari keluarga kaya, semua orang akan berpikir Aji anak paling beruntung satu dunia. Nyatanya, anaknya sekarang lagi merengut didalam kamar yang dia tempati hingga umurnya dua puluh satu tahun, sebelum pindah ke apartemen yang dia tinggali sampai sekarang.

Aji gak pernah suka ikut pertemuan bulanan keluarga mamanya ini. Aji bilang keluarga mamanya itu aneh, di depan mereka akan terlihat seperti saling dekat, padahal setelah keluar satu langkah aja dari rumah diadakannya acara, mereka akan kembali ke settingan semula, saling iri, saling berkompetisi, saling membandingkan.

“Ji, gak boleh gitu, dong. Aku ngerti kamu males banget ada di sini, tapi jangan sampe tiap buka mulut bawaannya nyindir dan ngajak perang aja.” Ku singkap poni yang udah menyentuh matanya dengan tangan kanan, dan mengelus pipinya dengan ibu jari tangan kiri yang ku gunakan untuk menopang dagu Aji.

“Bukan salahku kalo obrolannya emang selalu ngarah ke situ?” jawab Aji masih sambil merengut. Pipinya keliatan makin menggembung. Kalau lagi begini, aku yakin semua orang bisa menebak kalau Aji adalah anak semata wayang.

“Ayo pulang, kata kamu cuma satu jam kita di sini.” Dengan posisi duduk berhadapan di atas kasur Aji dan kedua tangan Aji yang melingkar di pinggang, anak ini dengan mudah menarikku untuk dipeluk dan meletakkan dagunya di pundakku, tanpa ragu memindahkan semua beratnya ke pundakku.

“Ya, sabar dulu, kita baru aja selesai makan. Mama kamu dari tadi nyebut bread pudding dengan penekanan kesukaan kamu waktu masih kecil dan dia buatnya dari kemarin, loh, masa kamu tega mau pulang sebelum mama liat kamu makan bread pudding buatannya?” pasrah menerima beban berat dari kepalanya yang semakin ia letakkan tanpa rasa bersalah di pundakku, aku beralih mengelus bagian belakang kepalanya dengan tangan kananku.

“Gak perduli.” jawabnya singkat. “Hush, mulutnya, ah.” Aku menepuk punggungnya dengan pelan tetapi cukup untuk kasih peringatan kalau aku gak bercanda. Jadi kepikiran apa yang udah kedua orang tua Aji lakuin sampai anaknya sebegini gak pedulinya dengan mereka?

“Janji abis dessert dikeluarin, kita pulang? Kamu gausah merasa gak enak atau gimana, kak, aku yang bakal cari alasan dan aku yang akan ngomong, jadi nama kamu aman.” Aji mengangkat wajahnya dari pundak untuk disetarakan dengan jarak pandangku tanpa melepas tautan tangannya pada pinggangku.

“Yah, bukan masalah nama aku lah, tapi nama kamu. Kamu sendiri yang bilang keluarga mama kamu orangnya pada bocor mulutnya, kalau kamu pulang duluan dengan sikap kamu yang selama pertemuan ini sangat amat hostile, bisa diomongin sampe pertemuan selanjutnya kamu.”

“Again, i don't really care.”

“Ajiiii! capek deh aku ngomongin kamu.” Tanganku yang tadinya dipakai untuk mengelus lengannya berganti menjadi mencubitnya karena balasan asal yang keluar dari mulutnya. Aku terus mencubiti aji sampai ketika pintu kamar diketuk dan terdengar salah satu asisten rumah Aji bilang kalau mama Aji menyuruh kami turun. Untuk rumah sebesar ini, renovasi yang harus dilakukan selanjutnya mungkin penambahan intercom. padahal itu pasti bisa mempermudah komunikasi yang kayak sekarang ini.

Behave well setidaknya sampai kita pulang, okay? be nice and respectful, tahan once you feel like you're going to act up. Nanti aku kasih hadiah.” Kataku sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke depan kaca rias Aji yang lebarnya satu depa dan tingginya melebihi 164 cm—karena tinggi ku 164 cm, dan kaca ini kemungkinan setidaknya 30 cm lebih tinggi dariku.

“Apa hadiahnya?” bukannya ikut berdiri untuk turun, aji malah berbaring setelah membuang nafas yang kalau partikel debu bisa dilihat lebih jelas dengan mata, mungkin kami bisa melihat beberapa diantaranya terbang terhempas hembusan nafas Aji.

“Ya, gatau, kamu mau apa. Asal gak yang macem-macem atau gak mahal selangit.” Balasku, berputar, menghampiri Aji dan menarik tangannya untuk bangun kembali duduk, dan berdiri.

“Biarin aku nginep di rumah kamu?” senyum jahil mulai muncul di mukanya. Seharusnya dari awal aku sudah bisa menebak. Sejak berpacaran dua tahun lalu, hampir setiap hari libur—yang gak sibuk-sibuk amat akibat kerjaan yang sering Aji bawa pulang karena gak selesai dikerjakan saat jam kerja di kantor—dia selalu meminta untuk menginap di rumahku. Katanya enak, adem dan sunyi. Sunyi apaan, adikku tiga, yang paling tua berumur sembilan dan yang paling kecil berumur lima. Sunyi mungkin adalah kata sifat paling terakhir yang bisa menempel di keadaan rumahku. Menyebut rumahku adem juga pernyataan yang setengah benar, karena apartemennya yang berada di lantai tujuh belas itu jauh lebih adem dengan air conditioner yang menyala hampir dua puluh empat jam.

“Kamu, nih aneh banget, dikasih tempat tinggal segede istana kayak gini, punya apartemen yang bagusnya selangit, tapi malah mau numpang dirumah orang yang gedenya bahkan gak lebih dari ruang billiard di rumah kamu, udah mana diisi enam orang lagi.” Aku masih berusaha menarik tangannya untuk bangkit berdiri, anak ini walaupun kelihatan kurus, aslinya semua badannya hanya terbentuk oleh otot, makanya gak jarang aku memergokinya berkaca sambil mengangkat tangannya ala binaragawan, man and their ego about their looks.

“Yaudah kalo gaboleh, aku gak janji akan behave.” Anaknya malah semakin memberatkan badan dan kembali merebah diatas kasur.

“Okay, only if ibu says yes dan Ares mau berbagi kamarnya sama kamu untuk satu malam, ya?” kataku final. Setiap menginap di rumah, Aji selalu tidur di kamar Ares, adikku yang tertua dan satu-satunya anak lelaki di rumah kami. Yah, sebetulnya ini bukan syarat sulit untuk Aji karena aku tahu, seberapa lama pun Aji menginap di rumah, Ares gak akan pernah menolak kamarnya jadi tempat pengungsian kalau bayarannya adalah teman main monopoli dan ludo sampai ibu—atau terkadang aku—mengetuk pintu kamarnya—terkadang dengan sedikit marah—untuk menyuruh mereka berhenti main dan cepat tidur karena malam yang makin larut.

Done and done, ayo kita turun sekarang.” Setelah drama merengutnya selesai, Aji si dua puluh tiga tahun ini akhirnya bangkit dan menarik tanganku untuk kembali turun ke ruang keluarga rumah besarnya itu.


Tia gak akan pernah ngerti seberapa rumah yang luasnya gak lebih dari ruang billiard rumah gue bisa memberikan berjuta kali hangat yang selama ini gak pernah gue rasakan di rumah gue yang punya heater, sekalipun itu heater paling canggih yang bisa mama temukan di Amerika. Rumah yang lantainya di beberapa bagian punya corak dan warna yang berbeda, entah karena stock lantainya habis atau udah gak ditemukan lagi karena renovasi yang dilakukan secara bertahap karena dana yang belum cukup. Rumah yang air conditioner-nya cuma nyala pas malam, karena bayar listrik mahal dan masih ada kipas angin yang bisa ilangin gerah.

Kalau ditanya apa lebihnya rumah ini, tentu aja tanpa berpikir lagi gue akan jawab penghuninya. Penghuninya yang bahkan gak ada hubungan darah setitikpun dengan gue, tetapi gak pernah gagal untuk bikin gue merasa jadi bagian dari keluarga mereka, yang paling dekat, yang paling disayang. Umumnya, kemanapun gue pergi orang-orang selalu bersikap baik ke gue, but not because they mean it. Mereka cuma melakukan itu karena tau gue anak salah satu orang kaya, dan bisa kasih mereka banyak manfaat.

Tapi, orang-orang dirumah itu beda. Dari hari pertama gue menginjakkan kaki di rumah itu, gue tau mereka menerima gue karena anak sulung perempuan mereka, menyayangi orang ini—gue—jadi mereka juga melakukan hal yang sama. Apa-apa yang dilakukan mereka sekeluarga selalu berdasarkan kasih sayang atas satu sama lain, kayak waktu kedua kalinya gue main ke rumah itu dan ibu masak dendeng karena tau di pertemuan pertama kita gue jatuh cinta sama dendeng buatannya. Atau bapak yang selalu beliin anak-anaknya kue pukis tiap dia pulang dari mancing bareng bapak-bapak lain pas weekend. Atau adik-adiknya Tia—Ares, Amani dan Cici yang memberikan satu spot khusus untuk menyimpan guling, selimut, dan bantal yang gue pake tiap kali nginep di rumah mereka, disamping tempat alat tidur mereka disimpan.

Tia gak akan tau, gimana cuma satu hari dirumah dia bisa bikin gue merasa dilihat dan diperhatikan jauh lebih banyak dibanding menghabiskan dua puluh satu tahun tinggal dirumah yang menyerupai istana itu.

“Mas Aji dateng bawa pizza, ibuu!” teriak Cici sambil masuk ke pagar rumahnya dengan kotak kecil pizza di tangan kiri dan menarik kakaknya dengan tangan kanannya. Anak itu padahal lagi main sama anak tetangga sebelah, tapi secepat itu dia lupain setelah liat kami. Gue serahin kotak pizza yang kecil ke Cici—karena anaknya ngotot mau bantu bawa—dan meninggalkan dua kotak lainnya yang cukup besar untuk tetap gue pegang. Masih berada di luar rumah, gue berusaha untuk cari cara membawa beberapa kantong belanja yang sengaja gue taro belakang supaya Tia gak liat—Tia suka marah kalo tau gue bawa jajanan berlebihan buat keluarganya—dalam satu kali jalan, ketika tiba-tiba Ares, adik Tia yang kedua menghampiri gue untuk bersalaman dan langsung menyambar beberapa kantong belanja yang ada di tangan gue.

“Banyak amat jajanannya, mas, emang kita mau acara apaan malam ini?” selayaknya anak umur sembilan tahun lainnya yang belum lancar basa-basi, gue tahu anak ini bertanya serius.

“Iya dong, kemarin main ludo kita kan belum sampe selesai gara-gara keburu disuruh tidur sama mbak Tia, hari ini kita lanjut main.” Jawab gue ke Ares sambil tersenyum lebar bukan main. dalam lubuk hati gue, gue beneran menunggu-nunggu agenda main game sebelum tidur bareng Ares. Belum sempat Ares menjawab gue, obrolan kami terdistraksi karena suara nyaring cici yang tiba-tiba kembali keluar. Bukan untuk membantu gue membawa kantong belanjaan kali ini, tetapi untuk nyamperin anak tetangga sebelah yang tadi main sama dia dan bilang,

“Ayo kita tanya mama kamu boleh gak kamu makan pizza di dalam rumah aku, aku ada banyak pizza dibawain sama mas aku.”

Suatu hari gue akan memastikan Tia tau, bahwa diumurnya yang ke dua puluh empat tahun, dia sudah menyelamatkan seorang anak umur dua puluh tiga tahun yang gak pernah punya adik atau kakak, ataupun keluarga yang cukup perduli dengan keberadaannya, dengan memberikannya rumah paling nyaman untuk jadi tempat singgah, kalau bisa untuk waktu yang lama.