Shift Malam

Aku mengunci pintu ruang kerjaku dan bersiap untuk memulai mengerjakan semua tugas yang menungguku. Malam ini giliranku mendapatkan shift malam.

Sial. Rutuk ku.

Sebagai pegawai rumah sakit, mendapat shift malam adalah hal terburuk. Selain rasa malas yang terkadang melanda, image rumah sakit sebagai tempat yang menyeramkan terkadang sedikit mempengaruhiku.

Aku menyalakan televisi agar setidaknya ada suara yang menemaniku malam ini. Ya, aku sendirian. Setiap karyawan di unit kerjaku ini selalu sendiri ketika shift malam. Hal ini dikarenakan jumlah karyawan di unitku yang lebih sedikit dibanding unit lain.

Aku memakai kacamataku, membolak-balik berkas yang kupegang dengan kedua tangan, sebelum akhirnya mengetik beberapa poin penting untuk dibicarakan esok hari. Seperti itu terus sampai ada saatnya aku merasa pegal atau bosan dan akhirnya memutuskan untuk sedikit meregangkan badanku ataupun berjalan untuk sekadar meluruskan kaki atau mengambil air minum.

Tik..Tok..Tik..Tok...

Sunyi sekali, fikirku. Suara jarum jam pun tedengar sangat jelas di telingaku.

Memeluk tubuhku yang diterpa hawa dingin Air Conditioner dan melihat acara televisi yang sedang tayang. Lewat prime time biasanya acara televisi hanya berisi berita atau beberapa acara yang ditayangkan ulang.

Menekan remote, mengganti channel sebelum akhirnya aku berenti di satu channel yang menayangkan film action dengan Denzel Washington sebagai pemeran utamanya. Baru saja aku memfokuskan diriku pada film tersebut, iklan muncul yang dilanjutkan dengan tayangan sekilas berita. Aku pun akhirnya memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaanku. Siapa tahu arwah baik menghampiriku dan membantuku menyelesaikan ini semua dengan cepat agar aku bisa melelapkan mataku sedikit saja.

oke, ayo kembali bekerja! Kataku dalam hati.

Tak lama ada bunyi pintu terdorong. Aku yang sedang fokus kepada komputerku langsung mengalihkan pandangan untuk melihat siapakah yang datang di...

Jam 1 malam!

“Mbak Sena, serius sekali.” Kata perempuan itu.

“Hehehe iya Sel, aku mau selesaikan tugasku ini cepat-cepat. Siapa tahu dapat tidur barang 15 menit saja.” Kataku menanggapi perkataan perempuan itu.

Omong-omong dia ini Selena. Kami tidak satu bagian, tetapi kami saling kenal karena unitnya yang hanya berjarak dua ruangan dari unitku. Kami sering pergi untuk makan siang bersama atau sekadar berbincang ketika bertemu dilorong rumah sakit.

“Kamu sendiri mau kemana?” Tanyaku kepadanya.

“Aku habis ke toilet. Karena dengar ada suara televisi dari ruangan mbak, dan setelah kuintip ternyata yang dinas malam adalah mbak jadi aku memutuskan untuk menyapa mbak sebentar.” katanya melihat kearahku.

Pekerjaanku pun sedikit teralihkan karena kedatangannya. Tapi tak apa, toh, dilorong depan juga sedikit terlalu sepi. Walaupun sudah terbiasa mendapatkan shift malam sendirian, tetap saja terkadang aku merasa sedikit was-was. Ditambah lagi ruanganku yang letaknya agak terpencil dari lobby depan. Walaupun ada suara berisik dari luar tetapi akan terasa lebih sunyi karena tidak banyak orang yang lalu-lalang.

“Wah lihat berita itu mbak! Bagaimana bisa seseorang tertidur begitu lelapnya hingga lupa jika ia sedang memasak sesuatu!” kata Selena hampir berteriak.

Aku pun melihat televisi yang sedang menampilkan berita kebakaran rumah akibat keteledoran sang empunya rumah.

“Yah, itu akibatnya jika kita teledor. Oh, atau bisa jadi ia merupakan pasien alzheimer ringan atau punya penyakit lupa?” jawabku santai sambil kembali sibuk dengan pekerjaanku.

“Ya, bisa jadi sih.” Balasnya setuju dengan perkataanku.

Setelah itu Selena dan aku mengobrol beberapa hal lain. Ia menanyakan kabar anakku dan aku menanyakan kabar orang tuanya. Selena ini anak yang baik dan ramah. Pembawaannya sopan dan lemah lembut. Tipe orang yang mungkin tidak pernah marah akan suatu hal selama hidupnya. Yah, mungkin aku berlebihan.

“Jadi ini semua adalah berkas yang akan mbak kerjakan malam ini?” tanyanya sambil menunjuk berkas yang ada disamping komputerku.

“Iya. Bagianku jadi sedikit sibuk belakangan ini. Makanya kami sebisa mungkin membagi tugas secara adil.” Kataku menjelaskan sambil kembali fokus dengan komputerku.

Lalu aku melanjutkan, “Tapi jika takdir berkehendak lain dan berakhir dengan aku yang tidak bisa menyelesaikan ini semua dalam semalam. Aku bisa apa kan?” melihat kearahnya dan mengedipkan satu mataku. Selena hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja ku katakan.

Cukup lama kami mengobrol sebelum akhirnya ia berpamitan untuk kembali ke ruangannya.

“Okedeh mbak. Aku balik ke ruanganku dulu ya.” Katanya sambil langsung menoleh kearah pintu. Aneh. Pikirku. Kenapa dia terlihat sangat kaku?

“Ohh oke, biarku kunci pintunya.” Jawabku sambil mengikutinya kearah pintu, dan melambaikan tanganku kepunggung nya. Dia bahkan tidak menoleh barang sedikit pun sebelum berjalan kearah ruangannya?

Yah masa bodoh, kupikir. Mungkin dia tiba-tiba teringat sesuatu yang penting yang harus segera ia kerjakan.

Huh, kenapa malam ini dingin sekali. Bulu kudukku rasanya sampai berdiri. Apa karena AC ruanganku terlalu besar, ya? Aku harus segera mengeceknya.

Akupun kembali mengunci pintu ruanganku, dan membesarkan volume televisi diruanganku.


this is somekind of a riddle. find the anomaly. btw, https://secreto.site/id/a8j9b tell me if you find something heheh