the movie
the woman pov
Memakai kemeja berwarna hitam yang baru saja selesai ku setrika sore ini, memikirkan jeans mana yang harus kugunakan agar setidaknya memberi sedikit nilai tambah pada penampilan ku yang, well, kau bisa bilang jauh dari kata feminine. Omong-omong saat ini aku sedang bersiap untuk pergi ke festival mingguan yang diadakan di kotaku. Setiap malam minggu, aku rutin datang ke festival itu, sekedar untuk membeli permen kapas, atau hanya untuk melihat segerombolan orang melepas penat mereka disana. Ada kesenangan sendiri untukku, melihat senyum mereka yang terlihat sangat lepas. Terutama bocah-bocah dengan tangan penuh, memegang hadiah dari permainan yang baru saja mereka menangkan, atau dengan mulut penuh makanan yang baru saja mereka beli. Aku selalu suka keramaian.
Sebetulnya ada satu alasan lagi. Bahkan yang satu ini dapat dibilang sebagai alasan utamaku rutin datang ke festival itu. Yaitu, keberadaan seseorang yang sedikit banyak membawa rasa senang untukku. Kebiasaannya yang akan datang tepat 25 menit setelah aku datang sepertinya cukup untukku mengingat-ingat dirinya ketika aku sedang melamun, atau ketika aku membersihkan gudang samping kamar bibi yang sudah penuh oleh debu.
Aku tidak tahu bagaimana awal kejadiannya. Saat itu, suatu hari dibulan May, dimana kami yang kebetulan bertemu di salah satu kedai ice cream dengan lampu besar diatasnya. Dia dengan baju berlengan panjang berwarna coklat dengan sablon smiley face di tengahnya, terlihat sepi dan menenangkan dalam waktu bersamaan. Aneh bagaimana seseorang bisa terlihat sebegitu sepinya ditengah keramaian festival yang memekakkan telinga. Dia yang aneh nya malah terlihat menarik untukku. Maka dari itu, aku memulai mengajaknya berbicara.
Seingatku begitu awal mula kami bisa mengenal satu sama lain dan berakhir dengan pertemuan rutin tiap minggunya di festival itu. Satu hal yang kusadari setelah sering kali bertemu dengannya adalah ia yang jauh berbeda dari kesan pertamanya. Tak disangka ia sungguh manis. Minggu lalu ia datang dengan satu tangkai bunga mawar yang ia petik sendiri dikebun tempatnya bekerja. Lain waktu ia membawa sebuah ukiran kayu membentuk huruf B yang mana huruf tersebut adalah huruf pertama dari namaku. Kayu tersebut terlihat rapi diatas meja tidurku.
Ia juga tidak pernah melewatkan pertemuan kami. Dapat kupastikan, tidak ada ucapan janji untuk bertemu lagi setiap kali kami berpisah pada tiap pertemuan. Walaupun begitu, ia tetap datang. Membuatku merasakan kasih sayang yang sedikit nyata.
Jam 7 tepat, aku harus berangkat sekarang.
Tidak bisa kupungkiri, ada cukup banyak hal yang ingin kuceritakan padanya saat kami bertemu nanti. Tentang pelanggan di tempatku yang lagi-lagi mengeluh akan pintu depan toko yang berbunyi nyaring tiap kali dibuka, tentang aku yang memikirkan untuk pergi dari rumah bibiku, dan tentang film yang kutonton di malam hari dengan tambahan suara teredam pamanku yang berasal dari kamar atas, mengatakan bahwa ia sudah mulai keberatan dengan keberadaanku yang menumpang dirumah mereka (alasan lain mengapa aku memikirkan untuk pergi dari rumah itu). Apa ia tidak tahu bahwa rumahnya tidak kedap akan suara?
20 menit menunggu dikursi dekat kedai ice cream, dia akhirnya datang. Memakai topi yang kemarin ia dapatkan sebagai hadiah dari permainan lempar bola yang ia menangkan. Dengan jaket berwarna hitam yang memiliki kantung dikedua sisinya.
Duduk disisi kosong kursi, ia dengan senyum kasualnya mengangkat sebelah tangan, menyapaku. Aku pun tersenyum singkat membalasnya.
Sebetulnya jika kau bertanya apa aku tahu banyak tentang orang ini, maka kau akan mendapat jawaban tidak dengan intonasi super yakin dariku. Aku bahkan tidak tahu berapa umurnya, dimana ia tinggal, dan dengan siapa ia hidup. Selama ini hanya aku yang membawa topik keluarga dalam obrolan kami. Yah, setidaknya aku tahu siapa namanya.
Dia memulai obrolan dengan menanyakan bagaimana kabarku. Yang kubalas dengan jujur bahwa seminggu kebelakang adalah cukup berat untuk kujalani. Obrolan berlanjut dengan ia yang bercerita tentang kebun milik tuan tanah tempat ia bekerja yang kemarin baru saja kecolongan tiga keranjang apel yang lupa dimasukkan kedalam lumbung saat jam kerja hari itu telah selesai. Kasihan sekali, kuharap tuan tanahnya cukup berbaik hati untuk merelakan kejadian itu dan tidak meminta uang ganti rugi.
“Kamu tahu, kemarin aku baru saja menonton suatu film. Film ini lain daripada yang lain. Ceritanya tentang seorang wanita yang kagum akan kisah cinta antara dua insan yang, mari kita sebut si A dan si B untuk mempermudah” kataku ketika giliranku untuk bercerita tiba.
“Hmm, oke. Jadi si wanita ini kagum akan kisah cinta orang lain?” sedikit memiringkan posisi duduknya menghadap kearahku.
“Iya. Si wanita pemeran utama ini kagum akan kisah cinta antara si A dan B yang sebenarnya tidak terbukti juga keasliannya. Kisah antara A dan B hanyalah legenda yang beredar dimasyarakat.” kataku membuka ceritaku malam ini.
“Dikisahkan si A adalah anak buah dari ayah si B. Si A ditugaskan untuk mengantar si B kerumah bibinya setiap kali ayah dari B melakukan pekerjaan ilegalnya. Satu hal yang si B tidak tahu, bahwa si A memiliki komplotan dan mengincar si B untuk diculik dan meminta uang tebusan kepada ayahnya, karena tahu bahwa ayah si B menghasilkan banyak uang dari pekerjaannya.” Kataku. Sedikit banyak menarik perhatiannya menjadi sepenuhnya kepadaku.
“Jadi sebenarnya tujuan si A bekerja pada ayah si B adalah untuk memata-matai kebiasaan si ayah dan si B?” katanya bertanya dengan mata dikedipkan sebanyak dua kali.
“Ya, benar. Si B digambarkan sebagai gadis polos yang manis dan pemalu. Maka ketika mereka semakin sering bertemu, ia mulai percaya kepada si A dan memohon agar memiliki waktu lebih banyak dengan si A.”
“Oh, jadi si B jatuh cinta pada si A tanpa mengetahui bahwa si A sebenarnya orang jahat dan tidak tulus melakukan itu semua?” katanya. Kurasa dia dapat menebak jalan cerita film ini.
“Ya. Sebenarnya kurasa, si A tulus melakukan semua hal itu. Karena—”
“Karena ternyata si A juga jatuh cinta kepada B, dan mulai ragu akan rencana yang akan ia lakukan kepada B dan ayahnya. Apa aku benar?” belum sempat ku melanjutkan ucapanku, suara nya sudah menginterupsi dengan kalimat yang hampir enam puluh persen sama dengan apa yang akan kukatakan.
“Ya, kau benar.” Ungkapku kepadanya. “Tetapi akhirnya ia tetap melakukannya. Menyekap B tanpa mau melihat matanya karena ia sadar, apa yang ia lakukan adalah salah dan bahwa sebenarnya ia tidak mau melakukan hal itu. Tetapi ia sudah kepalang tanggung.”
“Maka saat teman komplotannya berkhinat setelah berhasil mendapatkan uang dari ayah si B, ia pun tidak perduli lagi.”
“Tepat ketika ia akan melepaskan si B dan mengantarkannya pulang seperti biasanya, si B pun berlari. Bukan karena ia takut. Tapi lebih karena ia sadar, bahwa selama ini ia sudah terperdaya.” Pikiranku kembali kepada malam aku menonton film ini. Bagaimana aku harus menahan suara tangisku saat adegan ini terputar.
“Oke itu menyedihkan.” Balasnya singkat.
“Iya kan? Tapi ceritanya belum selesai!”
“Si A pun mengejarnya, berusaha untuk membuatnya berhenti, hingga saat mereka berhenti disebuah jembatan dan si B memutuskan untuk melompat ke sungai dibawah jembatan tersebut. A pun berusaha untuk mencari keberadaan B di sungai tersebut, tetapi ia tidak menemukannya. Bahkan tidak dengan jenazahnya. Dan begitu bagaimana akhirnya si A tertangkap.” Tidak perduli dengan keadaan malam ini dimana orang-orang sibuk berteriak dan tertawa, aku pun melanjutkan,
“Banyak orang mengatakan bahwa mereka sering melihat ekor putri duyung di sungai tersebut. Dan bagaimana orang-orang mengatakan bahwa putri duyung tersebut adalah si B yang sebenarnya berubah menjadi putri duyung yang cantik dengan ekor merah keemasannya.”
“Oke. Tapi mengapa wanita pemeran utama sangat menyukai kisah cinta A dan B yang bahkan berakhir dengan tragis? Apa cerita nya belum selesai?” tanyanya.
“Tentu saja! Selang beberapa tahun, si A akhirnya keluar dari penjara. Ia mulai menjalani kehidupan dengan benar. Ia bekerja sebagai pengantar paket. Dan kau tahu? Sambil melakukan pekerjaannya itu, dia tetap mencari keberadaan si B karena yakin bahwa mereka akan bertemu lagi. Bahwa apa-apa yang mereka punya belum memiliki akhir.”
“Dan begitu bagaimana ia menghabiskan sisa hidupnya. Mencari kekasihnya yang bahkan tidak diketahui status hidupnya. Orang-orang mulai membicarakan dahsyatnya cinta si A untuk si B. maka dari itu, cerita mereka menjadi legenda yang pada akhirnya sampai ke telinga wanita pemeran utama.”
“Lalu, apa dampak kisah cinta tersebut bagi wanita pemeran utama?” katanya sambil menggosok kedua telapak tangan nya. Kurasa malam ini memang lebih dingin dari biasanya.
“Wanita pemeran utama yang memiliki masa lalu kelam, dengan segala kesendirian dan kesedihan yang ia rasakan selama hidupnya, merasa bahwa cerita tentang si A dan si B adalah hal yang spektakular. Ia yang pada saat itu sedang dimabuk cinta kepada seorang videografer, memutuskan untuk menguji seberapa besar cinta si videografer kepadanya.” Jawabku. Memasuki bagian dimana kisah wanita pemeran utama mulai diungkit.
“Ohh.. Jangan bilang…” katanya, menggantungkan kalimat.
“Kalau kau berpikir bahwa wanita pemeran utama pergi menghilang, maka kau benar. Wanita pemeran utama pergi, meninggalkan secarik pesan berbunyi,
cari aku, jika kau mencintaiku.
Bagian ini adalah klimaksnya. Aku sampai terbingung akan keputusannya ini. Kebanyakan orang pasti akan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah hal bodoh. Tetapi jika kau pikirkan lagi, apa salahnya jika ia ingin pembuktian akan sebesar apa cinta si videografer untuknya.
Pertanyaannya lagi-lagi menungterupsi ku, “Ohh.. jadi dia benar-benar pergi?” katanya.
“Yap. Dia pergi. Dan begitu bagaimana film nya berakhir.” Aku mengakhiri cerita panjangku malam ini. Menutupnya dengan pertanyaan tentang bagaimana tanggapannya tentang film tersebut.
“Apa yang harus kukatakan. Kisah cinta tersebut memang sangat dahsyat. Bagaimana tokoh A tetap dengan pendiriannya hingga akhir hayatnya. Tetapi bagaimanapun, kurasa itu adalah karma atas kesalasalahannya yang terdahulu.” Jawabnya dengan jelas dan yakin.
“Ya kau benar. Tetapi dia punya teman yang siap melakukan hal buruk kalau-kalau tokoh A menggagalkan perampokan itu.”
Dan dengan itu obrolan kami berjalan hingga festival yang tadinya terlihat penuh padat menjadi sedikit lengang. Aku sendiri punya banyak sekali pandangan akan film tersebut. Kurasa aku sangat jelas mengerti perasaan yang dimiliki tokoh wanita pemeran utama. Aku terkagum akan kisah antara A dan B. Perlu kau tahu, aku menghabiskan satu pack kecil tisu saat menonton film itu. Tidak bisa menahan air mata yang dengan mudahnya lolos malam itu. Aneh karena aku tidak menangis saat orang tuaku meninggalkanku pada bibiku dihari ulang tahunku yang ke 9 tahun, aku tidak menangis ketika mainan kesukaanku dirusak oleh sepupuku.
Tentang wanita pemeran utama yang pergi untuk menguji apakah kekasih hatinya memiliki perasaan yang cukup banyak untuknya. Entah bagaimana, tetapi kupikir itu sesuatu hal yang keren. Sudah terlalu banyak orang yang menjatuhkan harapan dan perasaannya, jadi tak apa kan, kalau ia meyakinkan hatinya dengan cara itu? Tidak apa kan jika ia sedikit egois untuk dirinya sendiri?
Lalu satu pikiran melintas dipikiranku. Jika aku pergi seperti si wanita pemeran utama. Akankah ia mencariku?
the man pov
Sudah minggu ketiga semenjak kami terakhir bertemu dan ia tidak pernah datang lagi sejak saat itu. Ya, kurasa dia tidak akan pernah datang lagi. Atau mungkin akan ada suatu saat nanti, dimana ia berubah fikiran dan kembali menemuiku disini.
Aku teringat ceritanya di minggu terakhir kita bertemu. Tentang ia yang berpikir untuk keluar dari rumah bibinya. Dan tentang film yang ia ceritakan padaku. Sudah menunggu lebih dari 30 menit, kurasa sudah cukup. Ia tidak akan muncul.
Sebenarnya ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Tentang ketidakhadirannya yang kurasa ada sangkut pautnya dengan film itu. Kalau memang benar, tetapi mengapa? Apa ia sedang menguji rasa cintaku seperti apa yang wanita pemeran utama lakukan kepada videografer? Tapi untuk apa? Aku tidak berpikir hubungan kami sejauh itu? Mengapa ia ingin tahu seberapa besar cintaku untuknya kalau aku saja tidak memiliki rasa itu untuknya. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami adalah apa-apa yang lebih dari sebatas teman curhat. Tentu saja sangat menyenangkan untuk bercerita tentang banyak hal dengannya, tetapi hanya sebatas itu. Kurasa ia salah paham akan sikapku. Apa ini salahku juga, ya?
Jika saja hari itu aku mengatakan lebih jelas bahwa, jika aku adalah si videografer, aku tidak akan mengejar wanita pemeran utama. Akankah ia masih disini sekarang? Seharusnya hari itu aku mengatakan, kalau aku adalah si videografer, aku tak akan mengejarnya yang tidak pasti. Aku hanya akan menunggu, sambil memikirkan tentang masa depanku dan mempertimbangkan apa yang dapat kulakukan untuk memperbaiki kehidupanku.
Yah, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Kurasa aku hanya butuh menjalani keseharianku dengan normal dan semuanya akan kembali seperti biasa.
Tetapi, haruskah aku tetap menunggunya setiap minggu? Kalau-kalau ia kembali dan membutuhkan seseorang untuk bercerita tentang kisahnya selama ia pergi. Ughh, ini membingungkan. Mengapa juga aku merasa melankolis seperti ini?
the woman pov
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa selama ini aku telah salah. Kurasa aku terlalu percaya diri. Terlalu yakin akan kasih sayangnya yang bahkan belum jelas terucap. Pada akhirnya aku malah menjadi seperti tokoh B. Terperdaya akan rasa bahagia yang hanya satu sisi. Salahku terlalu percaya diri dengan rasa cinta yang kupikir mutual. Terobsesi untuk merasakan dicintai begitu besarnya oleh seseorang hingga mereka sudi mengejarku kemanapun aku pergi.
Sedari awal harusnya aku menyadari bahwa semua cerita itu tidak lebih dari sekadar video berdurasi 2 jam yang dibuat oleh seseorang terkenal yang berasal dari Hongkong, yang sialnya video itu sampai kepadaku. Kalau aku kembali dan berusaha untuk memperjuangkan apa yang hampir saja kami miliki, tanpa melakukan hal bodoh yang kusesali ini, apa ia masih bersedia? Omong-omong, seharusnya aku menangis karena perlakuan bibi serta pamanku dan bukan karena masalah cinta seperti ini. Memang aneh.
Ah sudahlah, yakin sekali aku ia masih menungguku hingga sekarang. Sudah lebih dari 3 minggu setelah aku pergi. Kurasa sudah cukup untuk seseorang kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal. Toh, aku bukan suatu bagian yang cukup penting untuk diingat seumur hidupnya juga.
Suzhou river (2000). go watch it.