<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>beoningpages</title>
    <link>https://beoningpages.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 05:26:45 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>a tiny big house</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/a-tiny-big-house?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Selalu ada perasaan berat setiap kali aku memutuskan untuk ikut ke acara salah satu keluarga yang terdiri dari tujuh anak yang masing-masing sudah memiliki setidaknya dua anak lainnya yang beberapa diantaranya juga sudah memiliki anak pula. I know that&#39;s a lot to process, but keep up with me. &#xA;&#xA;Yang jadi masalah sebetulnya, seharusnya aku gak perlu merasa berat karena dirumah anak yang manapun acara keluarga ini diadakan—atau Aji dan aku biasa menyebutnya pertemuan—aku akan merasa seperti tinggal di surga untuk beberapa jam ke depan. gimana enggak, ukuran kamar yang paling &#34;decent&#34; di rumah keluargaku yang cukup sederhana itu bahkan gak ada seperempatnya ukuran ruang billiard milik keluarga Aji. Padahal, sepenting apa, sih, ruang billiard dibuat di rumah yang penghuninya bahkan hanya ketemu setiap empat atau lima bulan sekali? !--more--&#xA;&#xA;Keluarga Aji sepertinya alergi sama yang namanya &#34;tidak kaya&#34;. Mama Aji tujuh bersaudara dan seluruhnya punya kekayaan yang cukup banyak untuk mereka bisa merasa tidak cemas akan masa depan hingga tujuh turunan atau bahkan lebih. Ketambahan papanya yang juga dari keluarga kaya, semua orang akan berpikir Aji anak paling beruntung satu dunia. Nyatanya, anaknya sekarang lagi merengut didalam kamar yang dia tempati hingga umurnya dua puluh satu tahun, sebelum pindah ke apartemen yang dia tinggali sampai sekarang. &#xA;&#xA;Aji gak pernah suka ikut pertemuan bulanan keluarga mamanya ini. Aji bilang keluarga mamanya itu aneh, di depan mereka akan terlihat seperti saling dekat, padahal setelah keluar satu langkah aja dari rumah diadakannya acara, mereka akan kembali ke settingan semula, saling iri, saling berkompetisi, saling membandingkan.&#xA;&#xA;&#34;Ji, gak boleh gitu, dong. Aku ngerti kamu males banget ada di sini, tapi jangan sampe tiap buka mulut bawaannya nyindir dan ngajak perang aja.&#34; Ku singkap poni yang udah menyentuh matanya dengan tangan kanan, dan mengelus pipinya dengan ibu jari tangan kiri yang ku gunakan untuk menopang dagu Aji. &#xA;&#xA;&#34;Bukan salahku kalo obrolannya emang selalu ngarah ke situ?&#34; jawab Aji masih sambil merengut. Pipinya keliatan makin menggembung. Kalau lagi begini, aku yakin semua orang bisa menebak kalau Aji adalah anak semata wayang. &#xA;&#xA;&#34;Ayo pulang, kata kamu cuma satu jam kita di sini.&#34; Dengan posisi duduk berhadapan di atas kasur Aji dan kedua tangan Aji yang melingkar di pinggang, anak ini dengan mudah menarikku untuk dipeluk dan meletakkan dagunya di pundakku, tanpa ragu memindahkan semua beratnya ke pundakku.&#xA;&#xA;*&#34;Ya, sabar dulu, kita baru aja selesai makan. Mama kamu dari tadi nyebut bread pudding dengan penekanan kesukaan kamu waktu masih kecil dan dia buatnya dari kemarin, loh, masa kamu tega mau pulang sebelum mama liat kamu makan bread pudding buatannya?&#34; pasrah menerima beban berat dari kepalanya yang semakin ia letakkan tanpa rasa bersalah di pundakku, aku beralih mengelus bagian belakang kepalanya dengan tangan kananku.&#xA;&#xA;&#34;Gak perduli.&#34; jawabnya singkat.&#xA;&#34;Hush, mulutnya, ah.&#34; Aku menepuk punggungnya dengan pelan tetapi cukup untuk kasih peringatan kalau aku gak bercanda. Jadi kepikiran apa yang udah kedua orang tua Aji lakuin sampai anaknya sebegini gak pedulinya dengan mereka?&#xA;&#xA;&#34;Janji abis dessert dikeluarin, kita pulang? Kamu gausah merasa gak enak atau gimana, kak, aku yang bakal cari alasan dan aku yang akan ngomong, jadi nama kamu aman.&#34; Aji mengangkat wajahnya dari pundak untuk disetarakan dengan jarak pandangku tanpa melepas tautan tangannya pada pinggangku.&#xA;&#xA;&#34;Yah, bukan masalah nama aku lah, tapi nama kamu. Kamu sendiri yang bilang keluarga mama kamu orangnya pada bocor mulutnya, kalau kamu pulang duluan dengan sikap kamu yang selama pertemuan ini sangat amat hostile, bisa diomongin sampe pertemuan selanjutnya kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Again, i don&#39;t really care.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ajiiii! capek deh aku ngomongin kamu.&#34; Tanganku yang tadinya dipakai untuk mengelus lengannya berganti menjadi mencubitnya karena balasan asal yang keluar dari mulutnya. Aku terus mencubiti aji sampai ketika pintu kamar diketuk dan terdengar salah satu asisten rumah Aji bilang kalau mama Aji menyuruh kami turun. Untuk rumah sebesar ini, renovasi yang harus dilakukan selanjutnya mungkin penambahan intercom. padahal itu pasti bisa mempermudah komunikasi yang kayak sekarang ini.&#xA;&#xA;&#34;Behave well setidaknya sampai kita pulang, okay? be nice and respectful, tahan once you feel like you&#39;re going to act up. Nanti aku kasih hadiah.&#34; Kataku sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke depan kaca rias Aji yang lebarnya satu depa dan tingginya melebihi 164 cm—karena tinggi ku 164 cm, dan kaca ini kemungkinan setidaknya 30 cm lebih tinggi dariku.&#xA;&#xA;&#34;Apa hadiahnya?&#34; bukannya ikut berdiri untuk turun, aji malah berbaring setelah membuang nafas yang kalau partikel debu bisa dilihat lebih jelas dengan mata, mungkin kami bisa melihat beberapa diantaranya terbang terhempas hembusan nafas Aji.&#xA;&#xA;&#34;Ya, gatau, kamu mau apa. Asal gak yang macem-macem atau gak mahal selangit.&#34; Balasku, berputar, menghampiri Aji dan menarik tangannya untuk bangun kembali duduk, dan berdiri.&#xA;&#xA;&#34;Biarin aku nginep di rumah kamu?&#34; senyum jahil mulai muncul di mukanya. Seharusnya dari awal aku sudah bisa menebak. Sejak berpacaran dua tahun lalu, hampir setiap hari libur—yang gak sibuk-sibuk amat akibat kerjaan yang sering Aji bawa pulang karena gak selesai dikerjakan saat jam kerja di kantor—dia selalu meminta untuk menginap di rumahku. Katanya enak, adem dan sunyi. Sunyi apaan, adikku tiga, yang paling tua berumur sembilan dan yang paling kecil berumur lima. Sunyi mungkin adalah kata sifat paling terakhir yang bisa menempel di keadaan rumahku. Menyebut rumahku adem juga pernyataan yang setengah benar, karena apartemennya yang berada di lantai tujuh belas itu jauh lebih adem dengan air conditioner yang menyala hampir dua puluh empat jam.&#xA;&#xA;&#34;Kamu, nih aneh banget, dikasih tempat tinggal segede istana kayak gini, punya apartemen yang bagusnya selangit, tapi malah mau numpang dirumah orang yang gedenya bahkan gak lebih dari ruang billiard di rumah kamu, udah mana diisi enam orang lagi.&#34; Aku masih berusaha menarik tangannya untuk bangkit berdiri, anak ini walaupun kelihatan kurus, aslinya semua badannya hanya terbentuk oleh otot, makanya gak jarang aku memergokinya berkaca sambil mengangkat tangannya ala binaragawan, man and their ego about their looks.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah kalo gaboleh, aku gak janji akan behave.&#34; Anaknya malah semakin memberatkan badan dan kembali merebah diatas kasur. &#xA;&#xA;&#34;Okay, only if ibu says yes dan Ares mau berbagi kamarnya sama kamu untuk satu malam, ya?&#34; kataku final. Setiap menginap di rumah, Aji selalu tidur di kamar Ares, adikku yang tertua dan satu-satunya anak lelaki di rumah kami. Yah, sebetulnya ini bukan syarat sulit untuk Aji karena aku tahu, seberapa lama pun Aji menginap di rumah, Ares gak akan pernah menolak kamarnya jadi tempat pengungsian kalau bayarannya adalah teman main monopoli dan ludo sampai ibu—atau terkadang aku—mengetuk pintu kamarnya—terkadang dengan sedikit marah—untuk menyuruh mereka berhenti main dan cepat tidur karena malam yang makin larut.&#xA;&#xA;&#34;Done and done, ayo kita turun sekarang.&#34; Setelah drama merengutnya selesai, Aji si dua puluh tiga tahun ini akhirnya bangkit dan menarik tanganku untuk kembali turun ke ruang keluarga rumah besarnya itu.&#xA;&#xA;-------------------------------&#xA;&#xA;Tia gak akan pernah ngerti seberapa rumah yang luasnya gak lebih dari ruang billiard rumah gue bisa memberikan berjuta kali hangat yang selama ini gak pernah gue rasakan di rumah gue yang punya heater, sekalipun itu heater paling canggih yang bisa mama temukan di Amerika. Rumah yang lantainya di beberapa bagian punya corak dan warna yang berbeda, entah karena stock lantainya habis atau udah gak ditemukan lagi karena renovasi yang dilakukan secara bertahap karena dana yang belum cukup. Rumah yang air conditioner-nya cuma nyala pas malam, karena bayar listrik mahal dan masih ada kipas angin yang bisa ilangin gerah. &#xA;&#xA;Kalau ditanya apa lebihnya rumah ini, tentu aja tanpa berpikir lagi gue akan jawab penghuninya. Penghuninya yang bahkan gak ada hubungan darah setitikpun dengan gue, tetapi gak pernah gagal untuk bikin gue merasa jadi bagian dari keluarga mereka, yang paling dekat, yang paling disayang. Umumnya, kemanapun gue pergi orang-orang selalu bersikap baik ke gue, but not because they mean it.* Mereka cuma melakukan itu karena tau gue anak salah satu orang kaya, dan bisa kasih mereka banyak manfaat. &#xA;&#xA;Tapi, orang-orang dirumah itu beda. Dari hari pertama gue menginjakkan kaki di rumah itu, gue tau mereka menerima gue karena anak sulung perempuan mereka, menyayangi orang ini—gue—jadi mereka juga melakukan hal yang sama. Apa-apa yang dilakukan mereka sekeluarga selalu berdasarkan kasih sayang atas satu sama lain, kayak waktu kedua kalinya gue main ke rumah itu dan ibu masak dendeng karena tau di pertemuan pertama kita gue jatuh cinta sama dendeng buatannya. Atau bapak yang selalu beliin anak-anaknya kue pukis tiap dia pulang dari mancing bareng bapak-bapak lain pas weekend. Atau adik-adiknya Tia—Ares, Amani dan Cici yang memberikan satu spot khusus untuk menyimpan guling, selimut, dan bantal yang gue pake tiap kali nginep di rumah mereka, disamping tempat alat tidur mereka disimpan. &#xA;&#xA;Tia gak akan tau, gimana cuma satu hari dirumah dia bisa bikin gue merasa dilihat dan diperhatikan jauh lebih banyak dibanding menghabiskan dua puluh satu tahun tinggal dirumah yang menyerupai istana itu. &#xA;&#xA;&#34;Mas Aji dateng bawa pizza, ibuu!&#34; teriak Cici sambil masuk ke pagar rumahnya dengan kotak kecil pizza di tangan kiri dan menarik kakaknya dengan tangan kanannya. Anak itu padahal lagi main sama anak tetangga sebelah, tapi secepat itu dia lupain setelah liat kami. Gue serahin kotak pizza yang kecil ke Cici—karena anaknya ngotot mau bantu bawa—dan meninggalkan dua kotak lainnya yang cukup besar untuk tetap gue pegang. Masih berada di luar rumah, gue berusaha untuk cari cara membawa beberapa kantong belanja yang sengaja gue taro belakang supaya Tia gak liat—Tia suka marah kalo tau gue bawa jajanan berlebihan buat keluarganya—dalam satu kali jalan, ketika tiba-tiba Ares, adik Tia yang kedua menghampiri gue untuk bersalaman dan langsung menyambar beberapa kantong belanja yang ada di tangan gue.&#xA;&#xA;&#34;Banyak amat jajanannya, mas, emang kita mau acara apaan malam ini?&#34; selayaknya anak umur sembilan tahun lainnya yang belum lancar basa-basi, gue tahu anak ini bertanya serius.&#xA;&#xA;&#34;Iya dong, kemarin main ludo kita kan belum sampe selesai gara-gara keburu disuruh tidur sama mbak Tia, hari ini kita lanjut main.&#34; Jawab gue ke Ares sambil tersenyum lebar bukan main. dalam lubuk hati gue, gue beneran menunggu-nunggu agenda main game sebelum tidur bareng Ares. Belum sempat Ares menjawab gue, obrolan kami terdistraksi karena suara nyaring cici yang tiba-tiba kembali keluar. Bukan untuk membantu gue membawa kantong belanjaan kali ini, tetapi untuk nyamperin anak tetangga sebelah yang tadi main sama dia dan bilang,&#xA;&#xA;&#34;Ayo kita tanya mama kamu boleh gak kamu makan pizza di dalam rumah aku, aku ada banyak pizza dibawain sama mas aku.&#34;&#xA; &#xA;Suatu hari gue akan memastikan Tia tau, bahwa diumurnya yang ke dua puluh empat tahun, dia sudah menyelamatkan seorang anak umur dua puluh tiga tahun yang gak pernah punya adik atau kakak, ataupun keluarga yang cukup perduli dengan keberadaannya, dengan memberikannya rumah paling nyaman untuk jadi tempat singgah, kalau bisa untuk waktu yang lama.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Selalu ada perasaan berat setiap kali aku memutuskan untuk ikut ke acara salah satu keluarga yang terdiri dari tujuh anak yang masing-masing sudah memiliki setidaknya dua anak lainnya yang beberapa diantaranya juga sudah memiliki anak pula. <em>I know that&#39;s a lot to process, but keep up with me</em>.</p>

<p>Yang jadi masalah sebetulnya, seharusnya aku gak perlu merasa berat karena dirumah anak yang manapun acara keluarga ini diadakan—atau Aji dan aku biasa menyebutnya pertemuan—aku akan merasa seperti tinggal di surga untuk beberapa jam ke depan. gimana enggak, ukuran kamar yang paling “<em>decent</em>” di rumah keluargaku yang cukup sederhana itu bahkan gak ada seperempatnya ukuran ruang <em>billiard</em> milik keluarga Aji. Padahal, sepenting apa, sih, ruang <em>billiard</em> dibuat di rumah yang penghuninya bahkan hanya ketemu setiap empat atau lima bulan sekali? </p>

<p>Keluarga Aji sepertinya alergi sama yang namanya “tidak kaya”. Mama Aji tujuh bersaudara dan seluruhnya punya kekayaan yang cukup banyak untuk mereka bisa merasa tidak cemas akan masa depan hingga tujuh turunan atau bahkan lebih. Ketambahan papanya yang juga dari keluarga kaya, semua orang akan berpikir Aji anak paling beruntung satu dunia. Nyatanya, anaknya sekarang lagi merengut didalam kamar yang dia tempati hingga umurnya dua puluh satu tahun, sebelum pindah ke apartemen yang dia tinggali sampai sekarang.</p>

<p>Aji gak pernah suka ikut pertemuan bulanan keluarga mamanya ini. Aji bilang keluarga mamanya itu aneh, di depan mereka akan terlihat seperti saling dekat, padahal setelah keluar satu langkah aja dari rumah diadakannya acara, mereka akan kembali ke settingan semula, saling iri, saling berkompetisi, saling membandingkan.</p>

<p><strong>“Ji, gak boleh gitu, dong. Aku ngerti kamu males banget ada di sini, tapi jangan sampe tiap buka mulut bawaannya nyindir dan ngajak perang aja.”</strong> Ku singkap poni yang udah menyentuh matanya dengan tangan kanan, dan mengelus pipinya dengan ibu jari tangan kiri yang ku gunakan untuk menopang dagu Aji.</p>

<p><strong>“Bukan salahku kalo obrolannya emang selalu ngarah ke situ?”</strong> jawab Aji masih sambil merengut. Pipinya keliatan makin menggembung. Kalau lagi begini, aku yakin semua orang bisa menebak kalau Aji adalah anak semata wayang.</p>

<p><strong>“Ayo pulang, kata kamu cuma satu jam kita di sini.”</strong> Dengan posisi duduk berhadapan di atas kasur Aji dan kedua tangan Aji yang melingkar di pinggang, anak ini dengan mudah menarikku untuk dipeluk dan meletakkan dagunya di pundakku, tanpa ragu memindahkan semua beratnya ke pundakku.</p>

<p><strong>“Ya, sabar dulu, kita baru aja selesai makan. Mama kamu dari tadi nyebut <em>bread pudding</em> dengan penekanan kesukaan kamu waktu masih kecil dan dia buatnya dari kemarin, loh, masa kamu tega mau pulang sebelum mama liat kamu makan <em>bread pudding</em> buatannya?”</strong> pasrah menerima beban berat dari kepalanya yang semakin ia letakkan tanpa rasa bersalah di pundakku, aku beralih mengelus bagian belakang kepalanya dengan tangan kananku.</p>

<p><strong>“Gak perduli.”</strong> jawabnya singkat.
<strong>“Hush, mulutnya, ah.”</strong> Aku menepuk punggungnya dengan pelan tetapi cukup untuk kasih peringatan kalau aku gak bercanda. Jadi kepikiran apa yang udah kedua orang tua Aji lakuin sampai anaknya sebegini gak pedulinya dengan mereka?</p>

<p><strong>“Janji abis <em>dessert</em> dikeluarin, kita pulang? Kamu gausah merasa gak enak atau gimana, kak, aku yang bakal cari alasan dan aku yang akan ngomong, jadi nama kamu aman.”</strong> Aji mengangkat wajahnya dari pundak untuk disetarakan dengan jarak pandangku tanpa melepas tautan tangannya pada pinggangku.</p>

<p><strong>“Yah, bukan masalah nama aku lah, tapi nama kamu. Kamu sendiri yang bilang keluarga mama kamu orangnya pada bocor mulutnya, kalau kamu pulang duluan dengan sikap kamu yang selama pertemuan ini sangat amat <em>hostile</em>, bisa diomongin sampe pertemuan selanjutnya kamu.”</strong></p>

<p><strong>“Again, i don&#39;t really care.”</strong></p>

<p><strong>“Ajiiii! capek deh aku ngomongin kamu.”</strong> Tanganku yang tadinya dipakai untuk mengelus lengannya berganti menjadi mencubitnya karena balasan asal yang keluar dari mulutnya. Aku terus mencubiti aji sampai ketika pintu kamar diketuk dan terdengar salah satu asisten rumah Aji bilang kalau mama Aji menyuruh kami turun. Untuk rumah sebesar ini, renovasi yang harus dilakukan selanjutnya mungkin penambahan <em>intercom</em>. padahal itu pasti bisa mempermudah komunikasi yang kayak sekarang ini.</p>

<p><strong>“<em>Behave well</em> setidaknya sampai kita pulang, <em>okay</em>? <em>be nice and respectful</em>, tahan <em>once you feel like you&#39;re going to act up</em>. Nanti aku kasih hadiah.”</strong> Kataku sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke depan kaca rias Aji yang lebarnya satu depa dan tingginya melebihi 164 cm—karena tinggi ku 164 cm, dan kaca ini kemungkinan setidaknya 30 cm lebih tinggi dariku.</p>

<p><strong>“Apa hadiahnya?”</strong> bukannya ikut berdiri untuk turun, aji malah berbaring setelah membuang nafas yang kalau partikel debu bisa dilihat lebih jelas dengan mata, mungkin kami bisa melihat beberapa diantaranya terbang terhempas hembusan nafas Aji.</p>

<p><strong>“Ya, gatau, kamu mau apa. Asal gak yang macem-macem atau gak mahal selangit.”</strong> Balasku, berputar, menghampiri Aji dan menarik tangannya untuk bangun kembali duduk, dan berdiri.</p>

<p><strong>“Biarin aku nginep di rumah kamu?”</strong> senyum jahil mulai muncul di mukanya. Seharusnya dari awal aku sudah bisa menebak. Sejak berpacaran dua tahun lalu, hampir setiap hari libur—yang gak sibuk-sibuk amat akibat kerjaan yang sering Aji bawa pulang karena gak selesai dikerjakan saat jam kerja di kantor—dia selalu meminta untuk menginap di rumahku. Katanya enak, adem dan sunyi. Sunyi apaan, adikku tiga, yang paling tua berumur sembilan dan yang paling kecil berumur lima. Sunyi mungkin adalah kata sifat paling terakhir yang bisa menempel di keadaan rumahku. Menyebut rumahku adem juga pernyataan yang setengah benar, karena apartemennya yang berada di lantai tujuh belas itu jauh lebih adem dengan <em>air conditioner</em> yang menyala hampir dua puluh empat jam.</p>

<p><strong>“Kamu, nih aneh banget, dikasih tempat tinggal segede istana kayak gini, punya apartemen yang bagusnya selangit, tapi malah mau numpang dirumah orang yang gedenya bahkan gak lebih dari ruang <em>billiard</em> di rumah kamu, udah mana diisi enam orang lagi.”</strong> Aku masih berusaha menarik tangannya untuk bangkit berdiri, anak ini walaupun kelihatan kurus, aslinya semua badannya hanya terbentuk oleh otot, makanya gak jarang aku memergokinya berkaca sambil mengangkat tangannya ala binaragawan, <em>man and their ego about their looks.</em></p>

<p><strong>“Yaudah kalo gaboleh, aku gak janji akan <em>behave</em>.”</strong> Anaknya malah semakin memberatkan badan dan kembali merebah diatas kasur.</p>

<p><strong>“Okay, <em>only if</em> ibu <em>says yes</em> dan Ares mau berbagi kamarnya sama kamu untuk satu malam, ya?”</strong> kataku final. Setiap menginap di rumah, Aji selalu tidur di kamar Ares, adikku yang tertua dan satu-satunya anak lelaki di rumah kami. Yah, sebetulnya ini bukan syarat sulit untuk Aji karena aku tahu, seberapa lama pun Aji menginap di rumah, Ares gak akan pernah menolak kamarnya jadi tempat pengungsian kalau bayarannya adalah teman main monopoli dan ludo sampai ibu—atau terkadang aku—mengetuk pintu kamarnya—terkadang dengan sedikit marah—untuk menyuruh mereka berhenti main dan cepat tidur karena malam yang makin larut.</p>

<p><strong>“<em>Done and done</em>, ayo kita turun sekarang.”</strong> Setelah drama merengutnya selesai, Aji si dua puluh tiga tahun ini akhirnya bangkit dan menarik tanganku untuk kembali turun ke ruang keluarga rumah besarnya itu.</p>

<hr/>

<p>Tia gak akan pernah ngerti seberapa rumah yang luasnya gak lebih dari ruang <em>billiard</em> rumah gue bisa memberikan berjuta kali hangat yang selama ini gak pernah gue rasakan di rumah gue yang punya <em>heater</em>, sekalipun itu <em>heater</em> paling canggih yang bisa mama temukan di Amerika. Rumah yang lantainya di beberapa bagian punya corak dan warna yang berbeda, entah karena stock lantainya habis atau udah gak ditemukan lagi karena renovasi yang dilakukan secara bertahap karena dana yang belum cukup. Rumah yang <em>air conditioner</em>-nya cuma nyala pas malam, karena bayar listrik mahal dan masih ada kipas angin yang bisa ilangin gerah.</p>

<p>Kalau ditanya apa lebihnya rumah ini, tentu aja tanpa berpikir lagi gue akan jawab penghuninya. Penghuninya yang bahkan gak ada hubungan darah setitikpun dengan gue, tetapi gak pernah gagal untuk bikin gue merasa jadi bagian dari keluarga mereka, yang paling dekat, yang paling disayang. Umumnya, kemanapun gue pergi orang-orang selalu bersikap baik ke gue, <em>but not because they mean it.</em> Mereka cuma melakukan itu karena tau gue anak salah satu orang kaya, dan bisa kasih mereka banyak manfaat.</p>

<p>Tapi, orang-orang dirumah itu beda. Dari hari pertama gue menginjakkan kaki di rumah itu, gue tau mereka menerima gue karena anak sulung perempuan mereka, menyayangi orang ini—gue—jadi mereka juga melakukan hal yang sama. Apa-apa yang dilakukan mereka sekeluarga selalu berdasarkan kasih sayang atas satu sama lain, kayak waktu kedua kalinya gue main ke rumah itu dan ibu masak dendeng karena tau di pertemuan pertama kita gue jatuh cinta sama dendeng buatannya. Atau bapak yang selalu beliin anak-anaknya kue pukis tiap dia pulang dari mancing bareng bapak-bapak lain pas weekend. Atau adik-adiknya Tia—Ares, Amani dan Cici yang memberikan satu spot khusus untuk menyimpan guling, selimut, dan bantal yang gue pake tiap kali nginep di rumah mereka, disamping tempat alat tidur mereka disimpan.</p>

<p>Tia gak akan tau, gimana cuma satu hari dirumah dia bisa bikin gue merasa dilihat dan diperhatikan jauh lebih banyak dibanding menghabiskan dua puluh satu tahun tinggal dirumah yang menyerupai istana itu.</p>

<p><strong>“Mas Aji dateng bawa pizza, ibuu!”</strong> teriak Cici sambil masuk ke pagar rumahnya dengan kotak kecil pizza di tangan kiri dan menarik kakaknya dengan tangan kanannya. Anak itu padahal lagi main sama anak tetangga sebelah, tapi secepat itu dia lupain setelah liat kami. Gue serahin kotak pizza yang kecil ke Cici—karena anaknya ngotot mau bantu bawa—dan meninggalkan dua kotak lainnya yang cukup besar untuk tetap gue pegang. Masih berada di luar rumah, gue berusaha untuk cari cara membawa beberapa kantong belanja yang sengaja gue taro belakang supaya Tia gak liat—Tia suka marah kalo tau gue bawa jajanan berlebihan buat keluarganya—dalam satu kali jalan, ketika tiba-tiba Ares, adik Tia yang kedua menghampiri gue untuk bersalaman dan langsung menyambar beberapa kantong belanja yang ada di tangan gue.</p>

<p><strong>“Banyak amat jajanannya, mas, emang kita mau acara apaan malam ini?”</strong> selayaknya anak umur sembilan tahun lainnya yang belum lancar basa-basi, gue tahu anak ini bertanya serius.</p>

<p><strong>“Iya dong, kemarin main ludo kita kan belum sampe selesai gara-gara keburu disuruh tidur sama mbak Tia, hari ini kita lanjut main.”</strong> Jawab gue ke Ares sambil tersenyum lebar bukan main. dalam lubuk hati gue, gue beneran menunggu-nunggu agenda main game sebelum tidur bareng Ares. Belum sempat Ares menjawab gue, obrolan kami terdistraksi karena suara nyaring cici yang tiba-tiba kembali keluar. Bukan untuk membantu gue membawa kantong belanjaan kali ini, tetapi untuk nyamperin anak tetangga sebelah yang tadi main sama dia dan bilang,</p>

<p><strong>“Ayo kita tanya mama kamu boleh gak kamu makan pizza di dalam rumah aku, aku ada banyak pizza dibawain sama mas aku.”</strong></p>

<p>Suatu hari gue akan memastikan Tia tau, bahwa diumurnya yang ke dua puluh empat tahun, dia sudah menyelamatkan seorang anak umur dua puluh tiga tahun yang gak pernah punya adik atau kakak, ataupun keluarga yang cukup perduli dengan keberadaannya, dengan memberikannya rumah paling nyaman untuk jadi tempat singgah, kalau bisa untuk waktu yang lama.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/a-tiny-big-house</guid>
      <pubDate>Tue, 05 Aug 2025 11:42:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>raw &amp; unedited </title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/raw-and-unedited?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Kamu tahu apa yang lebih mengerikan dari serangan zombie diseluruh penjuru dunia?” katanya sambil membalut seluruh lengan nya dengan majalah yang ia temukan di lemari kaca rumah ini.&#xA;&#xA;Lucu bagaimana minggu kemarin, kami masih berdebat tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan ketika kami pergi ke Ottawa minggu ini. Tapi kenyataannya, minggu ini, sekarang, kami malah terperangkap di rumah milik orang asing yang mungkin saja sekarang sudah menjadi bagian dari mereka.&#xA;&#xA;Turut berduka cita untuk mereka. Semoga mereka mendapat akhir yang baik? Apa itu sebuah ungkapan yang benar untuk kuucapkan di keadaan seperti sekarang ini? Jika dipikir lagi, apa yang akan terjadi setelah seseorang menghabisi mereka hingga mereka tak lagi setengah-hidup (?) seperti sekarang? Aneh karena mereka, secara harfiah telah tidak memiliki nyawa, tetapi kami masih harus menghabisi mereka.&#xA;&#xA;Dan setelah kami menghabisi mereka dengan sebenar-benarnya, akankah mereka mendapatkan tempat diatas sana seperti apa yang selalu dibicarakan oleh setiap orang taat di dunia ini? !--more--&#xA;&#xA;Kembali kepada saat sekarang. Aku pun akhirnya menanyakan kelanjutan ucapan nya tadi.&#xA;“Apa?” jawabku singkat.&#xA;Berusaha menyimpan tenaga sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya terkuras sampai habis nanti. Karena, satu detik setelah kami membuka pintu ini, maka tidak akan ada kata istirahat sebelum akhirnya kami menemukan tempat yang aman.&#xA;&#xA;“Hal itu adalah, tidak bisa merasakan seluruh pengalaman ini, bersamamu. Dengan adrenalin mencapai puncak, siap untuk meledak kapanpun.” katanya.&#xA;Dasar. Masih sempat-sempatnya dia menggombal disaat seperti ini.&#xA;&#xA;“Ughh, itu lebih terdengar seperti ironi dibandingkan gombalan, dan itu sangat buruk.” kataku, mengernyit dan memutar bola mataku.&#xA;&#xA;“Kau pikir begitu? kupikir juga begitu. seharusnya aku tidak mengatakannya tadi.” mengusap wajahnya, mengambil air yang hanya setengah gelas, sisa tadi pagi.&#xA;&#xA;“Ya, itu sangat buruk. Bahkan ponakan ku yang berumur 8 tahun bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik daripada itu. Aku merindukannya.” jawabku. Aku sungguh merindukannya.&#xA;&#xA;“Oke, sekarang serius. segera setelah aku membuka pintu ini, tidak ada diantara kita yang boleh berbicara, oke? Perhatikan langkahmu, walaupun diluar gelap, pendengaran mereka sangat tajam. Satu ranting terpijak dan kita tamat.” katanya sambil memegangi kedua bahuku.&#xA;&#xA;“Ya, aku mengerti.” balasku tak kalah serius.&#xA;&#xA;“Kita lakukan sesuai rencana. Dan Shane, kau terlihat super keren dengan rambut pendek seperti ini.” katanya mengedipkan sebelah mata dan mengambil kampak yang bersandar pada dinding rumah ini.&#xA;&#xA;Apakah aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sangat menyukai warna rambutnya yang sekarang? Apakah harus kukatakan sekarang, atau nanti saja? Bagaimana jika tidak ada kata nanti? Bagaimana jika ditengah perjalanan nanti dia malah menjadi bagian dari mereka dan meninggalkanku sendiri? Apakah pada saat itu akan jadi lebih baik untukku menyerah dan mengikutinya saja?&#xA;&#xA;Tuhan, aku memang bukan salah satu hambamu yang taat, tapi jika kau mencabut kebahagiaan seluruh kota, bisakah kau jangan cabut milikku juga?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kamu tahu apa yang lebih mengerikan dari serangan zombie diseluruh penjuru dunia?” katanya sambil membalut seluruh lengan nya dengan majalah yang ia temukan di lemari kaca rumah ini.</p>

<p>Lucu bagaimana minggu kemarin, kami masih berdebat tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan ketika kami pergi ke Ottawa minggu ini. Tapi kenyataannya, minggu ini, sekarang, kami malah terperangkap di rumah milik orang asing yang mungkin saja sekarang sudah menjadi bagian dari mereka.</p>

<p>Turut berduka cita untuk mereka. Semoga mereka mendapat akhir yang baik? Apa itu sebuah ungkapan yang benar untuk kuucapkan di keadaan seperti sekarang ini? Jika dipikir lagi, apa yang akan terjadi setelah seseorang menghabisi mereka hingga mereka tak lagi setengah-hidup (?) seperti sekarang? Aneh karena mereka, secara harfiah telah tidak memiliki nyawa, tetapi kami masih harus menghabisi mereka.</p>

<p>Dan setelah kami menghabisi mereka dengan sebenar-benarnya, akankah mereka mendapatkan tempat diatas sana seperti apa yang selalu dibicarakan oleh setiap orang taat di dunia ini? </p>

<p>Kembali kepada saat sekarang. Aku pun akhirnya menanyakan kelanjutan ucapan nya tadi.
“Apa?” jawabku singkat.
Berusaha menyimpan tenaga sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya terkuras sampai habis nanti. Karena, satu detik setelah kami membuka pintu ini, maka tidak akan ada kata istirahat sebelum akhirnya kami menemukan tempat yang aman.</p>

<p>“Hal itu adalah, tidak bisa merasakan seluruh pengalaman ini, bersamamu. Dengan adrenalin mencapai puncak, siap untuk meledak kapanpun.” katanya.
Dasar. Masih sempat-sempatnya dia menggombal disaat seperti ini.</p>

<p>“Ughh, itu lebih terdengar seperti ironi dibandingkan gombalan, dan itu sangat buruk.” kataku, mengernyit dan memutar bola mataku.</p>

<p>“Kau pikir begitu? kupikir juga begitu. seharusnya aku tidak mengatakannya tadi.” mengusap wajahnya, mengambil air yang hanya setengah gelas, sisa tadi pagi.</p>

<p>“Ya, itu sangat buruk. Bahkan ponakan ku yang berumur 8 tahun bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik daripada itu. Aku merindukannya.” jawabku. Aku sungguh merindukannya.</p>

<p>“Oke, sekarang serius. segera setelah aku membuka pintu ini, tidak ada diantara kita yang boleh berbicara, oke? Perhatikan langkahmu, walaupun diluar gelap, pendengaran mereka sangat tajam. Satu ranting terpijak dan kita tamat.” katanya sambil memegangi kedua bahuku.</p>

<p>“Ya, aku mengerti.” balasku tak kalah serius.</p>

<p>“Kita lakukan sesuai rencana. Dan Shane, kau terlihat super keren dengan rambut pendek seperti ini.” katanya mengedipkan sebelah mata dan mengambil kampak yang bersandar pada dinding rumah ini.</p>

<p>Apakah aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sangat menyukai warna rambutnya yang sekarang? Apakah harus kukatakan sekarang, atau nanti saja? Bagaimana jika tidak ada kata nanti? Bagaimana jika ditengah perjalanan nanti dia malah menjadi bagian dari mereka dan meninggalkanku sendiri? Apakah pada saat itu akan jadi lebih baik untukku menyerah dan mengikutinya saja?</p>

<p><em>Tuhan, aku memang bukan salah satu hambamu yang taat, tapi jika kau mencabut kebahagiaan seluruh kota, bisakah kau jangan cabut milikku juga?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/raw-and-unedited</guid>
      <pubDate>Wed, 24 Apr 2024 11:58:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>wine and a broken heart</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/wine-and-a-broken-heart?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[And here we are now. At 9 almost 10 pm, cramped under the cheap seafood stall that has been one of our favorite places whenever we need to catch up on each other&#39;s life updates. &#xA;ever since you were moved out of town, we&#39;ve barely had time to even say hi through text messages, yet every time we meet, you&#39;re still feel like the same person that understands me the most. im glad you still feel that way. but i know this night is different. though, im pretty sure that it&#39;ll bring me a tad bit of joy to see your face after a long time, im also aware that this night&#39;s going to be the night where i had my second biggest heartbreak. !--more--&#xA;&#xA;you see, i was stunned when you sent me a photo of your hands the other week. at first i was wondering what was your reason in sending them. until you point out the ring on your finger. that night, you were proposed by the man of your heart. your bubble chats kept coming, telling me how thrilled and happy you were but in my head, those same bubble chats were mocking me. took me sometime to finally get my self together. that&#39;s why i always postponed your plan to meet, until tonight, when you, out of nowhere, were standing outside my apartment. knocking on my doors non-stop until i open the door for you, like you always did. one of your antics that i picked up after 6 years of our friendship. friendship, huh. &#xA; &#xA;and now we&#39;re here. you&#39;re sitting across me, cant seem to stop talking about how your wedding day will going to be, how you have made a perfect plans for the bridal showers and stuffs. and how you never lose a chance to say how in love you are with your man. i dont blame you, tough. he&#39;s a great man. that is also one thing that makes me feel even worst. the fact that he&#39;s a great person. but im only human. i have feelings even though im not usually get too emotional over mundane things. i guess the alcohol is also taking part of the gloomy clouds that surrounding me tonight. but i guess you dont notice. cause you have never been a great drinker. two shots and you&#39;re off your limit. &#xA;&#xA;and i think we should call it a day. night is getting colder. i dont even think i can drive you home tonight. i almost hit my limit myself. i seriously regretting saying yes to your question to go out and drink instead of just having a casual dinner, because clearly, drinking while feeling the way i did right now is not helping. &#xA;i mean, i dont want to accidentally say i like you since 6 years ago, days after your now-fiance-boyfriend proposed to you, right?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>And here we are now. At 9 almost 10 pm, cramped under the cheap seafood stall that has been one of our favorite places whenever we need to catch up on each other&#39;s life updates.
ever since you were moved out of town, we&#39;ve barely had time to even say hi through text messages, yet every time we meet, you&#39;re still feel like the same person that understands me the most. im glad you still feel that way. but i know this night is different. though, im pretty sure that it&#39;ll bring me a tad bit of joy to see your face after a long time, im also aware that this night&#39;s going to be the night where i had my second biggest heartbreak. </p>

<p>you see, i was stunned when you sent me a photo of your hands the other week. at first i was wondering what was your reason in sending them. until you point out the ring on your finger. that night, you were proposed by the man of your heart. your bubble chats kept coming, telling me how thrilled and happy you were but in my head, those same bubble chats were mocking me. took me sometime to finally get my self together. that&#39;s why i always postponed your plan to meet, until tonight, when you, out of nowhere, were standing outside my apartment. knocking on my doors non-stop until i open the door for you, like you always did. one of your antics that i picked up after 6 years of our friendship. friendship, huh.</p>

<p>and now we&#39;re here. you&#39;re sitting across me, cant seem to stop talking about how your wedding day will going to be, how you have made a perfect plans for the bridal showers and stuffs. and how you never lose a chance to say how in love you are with your man. i dont blame you, tough. he&#39;s a great man. that is also one thing that makes me feel even worst. the fact that he&#39;s a great person. but im only human. i have feelings even though im not usually get too emotional over mundane things. i guess the alcohol is also taking part of the gloomy clouds that surrounding me tonight. but i guess you dont notice. cause you have never been a great drinker. two shots and you&#39;re off your limit.</p>

<p>and i think we should call it a day. night is getting colder. i dont even think i can drive you home tonight. i almost hit my limit myself. i seriously regretting saying yes to your question to go out and drink instead of just having a casual dinner, because clearly, drinking while feeling the way i did right now is not helping.
i mean, i dont want to accidentally say i like you since 6 years ago, days after your now-fiance-boyfriend proposed to you, right?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/wine-and-a-broken-heart</guid>
      <pubDate>Wed, 06 Mar 2024 06:10:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>to my 9</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/to-my-9?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[to the small existence that i knew when i was 14.&#xA;&#xA;never once at that time, crossed my mind, about me crying and praying for your happiness. how some nights i cried, because the world seems a bit too harsh on you. &#xA;how some other nights i cried, because the love that i have for you, becomes too much to the point i wanted to give you the world, but realized i couldn&#39;t do it cause im just a mortal. &#xA;&#xA;people asked about what would i say to you if i ever meet you. i was thinking of a long speech, but then realized that i could just give them one simple answer.&#xA;&#xA;&#34;i want to look at them, and say, thank you. for staying strong. and for giving me the best time of my life.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>to the small existence that i knew when i was 14.</p>

<p>never once at that time, crossed my mind, about me crying and praying for your happiness. how some nights i cried, because the world seems a bit too harsh on you.
how some other nights i cried, because the love that i have for you, becomes too much to the point i wanted to give you the world, but realized i couldn&#39;t do it cause im just a mortal.</p>

<p>people asked about what would i say to you if i ever meet you. i was thinking of a long speech, but then realized that i could just give them one simple answer.</p>

<p><em>“i want to look at them, and say, thank you. for staying strong. and for giving me the best time of my life.”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/to-my-9</guid>
      <pubDate>Sat, 28 Jan 2023 15:27:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>from 19th to 20th</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/saat-itu-adalah-ulang-tahunnya-yang-ke-19-tahun?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Saat itu adalah ulang tahunnya yang ke 19 tahun. Genap dua tahun lamanya ia bertarung melawan penyakit yang membuatnya lemah. Membuatnya kehilangan rambut hitam legamnya. Ia pernah berkata, satu-satunya hal yang lebih berharga dari sebongkah berlian adalah rambut hitam bergelombang miliknya. Tak pernah seharipun ia tidak memandangi rambutnya sambil berkata, &#39;oh, betapa beruntungnya aku&#39;. Sampai akhirnya berita buruk itu datang. Berita buruk yang mengambil paksa satu-satunya hal yang paling ia banggakan. &#xA;&#xA;Selama dua tahun berteman dengan obat-obat keras yang membuatnya merasa semakin lemah dibanding merasa lebih baik. Tetapi tak pernah sekalipun ia berpikir untuk menyerah. Ia terus bangkit. &#xA;Disitulah hebatnya ia. Sedikit lebih banyak dukungan dan perhatian yang diberikan padanya, sudah lebih dari cukup untuknya bertahan melewati pertarungan besarnya itu. !--more--&#xA;&#xA;Kami ingat bagaimana ia selalu berkata, &#39;aku akan sembuh, dan mengambil kembali mahkotaku dari mister jahat yang mengambilnya secara paksa&#39;. Terdengar kekanakan, tetapi siapa kami berani mematahkan semangat yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu. &#xA;&#xA;Di usianya yang ke 19 tahun, ia akhirnya berhasil memenangkan pertarungan itu. Kami ingat saat itu, suatu hari di bulan Desember, dengan langkah pasti dan tubuh berdiri penuh kepercayaan diri, ia berjalan melewati kumpulan pendukungnya yang berdiri di sepanjang salah satu koridor rumah sakit. Bersiap untuk melihat momen yang lebih membahagiakan dibanding pemandangan ratusan bintang yang menyala terang di malam hari. Dengan senyum di wajahnya yang masih terlihat pucat, tetapi hal itu tidak cukup untuk menutupi sinar kebahagiaan yang ia pancarkan kepada tiap-tiap kami. &#xA;Tak ada satu tetes air mata pun yang ia keluarkan saat ia, pada akhirnya membunyikan bel tersebut. Bel yang menandakan bahwa perjuangannya melawan penyakit tersebut, untuk saat ini sudah benar-benar selesai. Walaupun tidak ada yang tahu pasti bagaimana kedepannya, tetapi yang jelas saat itu semua orang bergembira. Semua orang selain dirinya, menangis sambil bertepuk tangan untuknya. &#xA;&#xA;Di usianya yang ke 20 tahun, sayangnya semua kebahagiaan itu lenyap. Kebahagiaan yang keberadaannya seperti sebuah mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi tetap dipercayai oleh banyak orang.&#xA;&#xA;Tak lebih dari satu tahun setelah ia membunyikan bel, penyakit itu kembali lagi. Menyerangnya yang pada saat itu tidak memiliki kepercayaan diri sebesar yang sebelumnya. Ibaratnya, dirinya yang sedang berada di langit ke tujuh, terbang bebas bersama seluruh angannya, tiba-tiba ditarik turun secara paksa, membentur tanah yang kasar tiada dua. Tak ada lagi kata &#39;optimis&#39; yang selama ini selalu melekat padanya. Dukungan dan perhatian yang lebih dari sebelumnya, bahkan tidak cukup untuk membuatnya bertahan melawan si mister jahat. &#xA;&#xA;Pada usianya yang ke 20 tahun,&#xA;impiannya untuk kembali memegang rambut hitam legamnya, akhirnya terhenti. Menguap bersama angan dan doanya, terbawa oleh angin yang berhembus tenang ketika semua orang menundukkan kepala mereka di depan tempat terakhir miliknya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu adalah ulang tahunnya yang ke 19 tahun. Genap dua tahun lamanya ia bertarung melawan penyakit yang membuatnya lemah. Membuatnya kehilangan rambut hitam legamnya. Ia pernah berkata, satu-satunya hal yang lebih berharga dari sebongkah berlian adalah rambut hitam bergelombang miliknya. Tak pernah seharipun ia tidak memandangi rambutnya sambil berkata, &#39;oh, betapa beruntungnya aku&#39;. Sampai akhirnya berita buruk itu datang. Berita buruk yang mengambil paksa satu-satunya hal yang paling ia banggakan.</p>

<p>Selama dua tahun berteman dengan obat-obat keras yang membuatnya merasa semakin lemah dibanding merasa lebih baik. Tetapi tak pernah sekalipun ia berpikir untuk menyerah. Ia terus bangkit.
Disitulah hebatnya ia. Sedikit lebih banyak dukungan dan perhatian yang diberikan padanya, sudah lebih dari cukup untuknya bertahan melewati pertarungan besarnya itu. </p>

<p>Kami ingat bagaimana ia selalu berkata, &#39;aku akan sembuh, dan mengambil kembali mahkotaku dari mister jahat yang mengambilnya secara paksa&#39;. Terdengar kekanakan, tetapi siapa kami berani mematahkan semangat yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu.</p>

<p>Di usianya yang ke 19 tahun, ia akhirnya berhasil memenangkan pertarungan itu. Kami ingat saat itu, suatu hari di bulan Desember, dengan langkah pasti dan tubuh berdiri penuh kepercayaan diri, ia berjalan melewati kumpulan pendukungnya yang berdiri di sepanjang salah satu koridor rumah sakit. Bersiap untuk melihat momen yang lebih membahagiakan dibanding pemandangan ratusan bintang yang menyala terang di malam hari. Dengan senyum di wajahnya yang masih terlihat pucat, tetapi hal itu tidak cukup untuk menutupi sinar kebahagiaan yang ia pancarkan kepada tiap-tiap kami.
Tak ada satu tetes air mata pun yang ia keluarkan saat ia, pada akhirnya membunyikan bel tersebut. Bel yang menandakan bahwa perjuangannya melawan penyakit tersebut, untuk saat ini sudah benar-benar selesai. Walaupun tidak ada yang tahu pasti bagaimana kedepannya, tetapi yang jelas saat itu semua orang bergembira. Semua orang selain dirinya, menangis sambil bertepuk tangan untuknya.</p>

<p>Di usianya yang ke 20 tahun, sayangnya semua kebahagiaan itu lenyap. Kebahagiaan yang keberadaannya seperti sebuah mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi tetap dipercayai oleh banyak orang.</p>

<p>Tak lebih dari satu tahun setelah ia membunyikan bel, penyakit itu kembali lagi. Menyerangnya yang pada saat itu tidak memiliki kepercayaan diri sebesar yang sebelumnya. Ibaratnya, dirinya yang sedang berada di langit ke tujuh, terbang bebas bersama seluruh angannya, tiba-tiba ditarik turun secara paksa, membentur tanah yang kasar tiada dua. Tak ada lagi kata &#39;optimis&#39; yang selama ini selalu melekat padanya. Dukungan dan perhatian yang lebih dari sebelumnya, bahkan tidak cukup untuk membuatnya bertahan melawan si mister jahat.</p>

<p>Pada usianya yang ke 20 tahun,
impiannya untuk kembali memegang rambut hitam legamnya, akhirnya terhenti. Menguap bersama angan dan doanya, terbawa oleh angin yang berhembus tenang ketika semua orang menundukkan kepala mereka di depan tempat terakhir miliknya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/saat-itu-adalah-ulang-tahunnya-yang-ke-19-tahun</guid>
      <pubDate>Sat, 29 Oct 2022 09:08:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>June 7</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/june-7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[On June 7 we went to a local night festival near her house. Not as spectacular as Disneyland. We only spent $3 for the entrance ticket, but we were happy. &#xA;&#xA;I remember she said, &#xA;&#34;I never went to a place like this. Much less at night.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Unlike other kids, i had a lame, boring childhood,&#34; she stopped and took a sip of her cold jasmine tea before continued,&#xA;&#xA;&#34;or miserable, or broken, i don&#39;t know, maybe all that i just mentioned.&#34; patiently waiting for the fireworks, surrounded by people. &#xA;&#xA;&#34;I&#39;ll just spend my weekends and school holidays watching cartoons with my granny cause my parents were nowhere to be found.&#34; she turned to me, with a smile on her face. She looked like someone who just won a lottery. &#xA;&#xA;Michael Haneke once said,&#xA;people could feel happily melancholic sometimes.&#xA;&#xA;I think that was what happened to her that night.&#xA;&#xA;Right at eleven they finally set off the fireworks. &#xA;&#xA;Made it explode with its distinctive noises.&#xA;&#xA;Sent its color to the sky. &#xA;&#xA;Sent its spark to my heart.&#xA;&#xA;You looked graceful. &#xA;And i still remember how i realized that the fireworks weren&#39;t the only thing that exploded that night.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>On June 7 we went to a local night festival near her house. Not as spectacular as Disneyland. We only spent $3 for the entrance ticket, but we were happy.</p>

<p>I remember she said,
“I never went to a place like this. Much less at night.”</p>

<p>“Unlike other kids, i had a lame, boring childhood,” she stopped and took a sip of her cold jasmine tea before continued,</p>

<p>“or miserable, or broken, i don&#39;t know, maybe all that i just mentioned.” patiently waiting for the fireworks, surrounded by people.</p>

<p>“I&#39;ll just spend my weekends and school holidays watching cartoons with my granny cause my parents were nowhere to be found.” she turned to me, with a smile on her face. She looked like someone who just won a lottery.</p>

<p>Michael Haneke once said,
<em>people could feel happily melancholic sometimes.</em></p>

<p>I think that was what happened to her that night.</p>

<p>Right at eleven they finally set off the fireworks.</p>

<p><em>Made it explode with its distinctive noises.</em></p>

<p><em>Sent its color to the sky.</em></p>

<p><em>Sent its spark to my heart.</em></p>

<p>You looked graceful.
And i still remember how i realized that the fireworks weren&#39;t the only thing that exploded that night.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/june-7</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Jul 2022 16:29:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>the movie</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/the-woman-pov?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[the woman pov&#xA;&#xA;Memakai kemeja berwarna hitam yang baru saja selesai ku setrika sore ini, memikirkan jeans mana yang harus kugunakan agar setidaknya memberi sedikit nilai tambah pada penampilan ku yang, well, kau bisa bilang jauh dari kata feminine. Omong-omong saat ini aku sedang bersiap untuk pergi ke festival mingguan yang diadakan di kotaku. Setiap malam minggu, aku rutin datang ke festival itu, sekedar untuk membeli permen kapas, atau hanya untuk melihat segerombolan orang melepas penat mereka disana. Ada kesenangan sendiri untukku, melihat senyum mereka yang terlihat sangat lepas. Terutama bocah-bocah dengan tangan penuh, memegang hadiah dari permainan yang baru saja mereka menangkan, atau dengan mulut penuh makanan yang baru saja mereka beli. Aku selalu suka keramaian.&#xA;&#xA;Sebetulnya ada satu alasan lagi. Bahkan yang satu ini dapat dibilang sebagai alasan utamaku rutin datang ke festival itu. Yaitu, keberadaan seseorang yang sedikit banyak membawa rasa senang untukku. Kebiasaannya yang akan datang tepat 25 menit setelah aku datang sepertinya cukup untukku mengingat-ingat dirinya ketika aku sedang melamun, atau ketika aku membersihkan gudang samping kamar bibi yang sudah penuh oleh debu.&#xA;&#xA;Aku tidak tahu bagaimana awal kejadiannya. Saat itu, suatu hari dibulan May, dimana kami yang kebetulan bertemu di salah satu kedai ice cream dengan lampu besar diatasnya. Dia dengan baju berlengan panjang berwarna coklat dengan sablon smiley face di tengahnya, terlihat sepi dan menenangkan dalam waktu bersamaan. Aneh bagaimana seseorang bisa terlihat sebegitu sepinya ditengah keramaian festival yang memekakkan telinga. Dia yang aneh nya malah terlihat menarik untukku. Maka dari itu, aku memulai mengajaknya berbicara. &#xA;&#xA;Seingatku begitu awal mula kami bisa mengenal satu sama lain dan berakhir dengan pertemuan rutin tiap minggunya di festival itu. Satu hal yang kusadari setelah sering kali bertemu dengannya adalah ia yang jauh berbeda dari kesan pertamanya. Tak disangka ia sungguh manis. Minggu lalu ia datang dengan satu tangkai bunga mawar yang ia petik sendiri dikebun tempatnya bekerja. Lain waktu ia membawa sebuah ukiran kayu membentuk huruf B yang mana huruf tersebut adalah huruf pertama dari namaku.  Kayu tersebut terlihat rapi diatas meja tidurku. !--more--&#xA;&#xA;Ia juga tidak pernah melewatkan pertemuan kami. Dapat kupastikan, tidak ada ucapan janji untuk bertemu lagi setiap kali kami berpisah pada tiap pertemuan. Walaupun begitu, ia tetap datang. Membuatku merasakan kasih sayang yang sedikit nyata. &#xA;&#xA;Jam 7 tepat, aku harus berangkat sekarang.&#xA;&#xA;Tidak bisa kupungkiri, ada cukup banyak hal yang ingin kuceritakan padanya saat kami bertemu nanti. Tentang pelanggan di tempatku yang lagi-lagi mengeluh akan pintu depan toko yang berbunyi nyaring tiap kali dibuka, tentang aku yang memikirkan untuk pergi dari rumah bibiku, dan tentang film yang kutonton di malam hari dengan tambahan suara teredam pamanku yang berasal dari kamar atas, mengatakan bahwa ia sudah mulai keberatan dengan keberadaanku yang menumpang dirumah mereka (alasan lain mengapa aku memikirkan untuk pergi dari rumah itu). Apa ia tidak tahu bahwa rumahnya tidak kedap akan suara?&#xA;&#xA;20 menit menunggu dikursi dekat kedai ice cream, dia akhirnya datang. Memakai topi yang kemarin ia dapatkan sebagai hadiah dari permainan lempar bola yang ia menangkan. Dengan jaket berwarna hitam yang memiliki kantung dikedua sisinya.&#xA;&#xA;Duduk disisi kosong kursi, ia dengan senyum kasualnya mengangkat sebelah tangan, menyapaku. Aku pun tersenyum singkat membalasnya. &#xA;&#xA;Sebetulnya jika kau bertanya apa aku tahu banyak tentang orang ini, maka kau akan mendapat jawaban tidak dengan intonasi super yakin dariku. Aku bahkan tidak tahu berapa umurnya, dimana ia tinggal, dan dengan siapa ia hidup. Selama ini hanya aku yang membawa topik keluarga dalam obrolan kami. Yah, setidaknya aku tahu siapa namanya. &#xA;&#xA;Dia memulai obrolan dengan menanyakan bagaimana kabarku. Yang kubalas dengan jujur bahwa seminggu kebelakang adalah cukup berat untuk kujalani. Obrolan berlanjut dengan ia yang bercerita tentang kebun milik tuan tanah tempat ia bekerja yang kemarin baru saja kecolongan tiga keranjang apel yang lupa dimasukkan kedalam lumbung saat jam kerja hari itu telah selesai. Kasihan sekali, kuharap tuan tanahnya cukup berbaik hati untuk merelakan kejadian itu dan tidak meminta uang ganti rugi.&#xA;&#xA;“Kamu tahu, kemarin aku baru saja menonton suatu film. Film ini lain daripada yang lain. Ceritanya tentang seorang wanita yang kagum akan kisah cinta antara dua insan yang, mari kita sebut si A dan si B untuk mempermudah” kataku ketika giliranku untuk bercerita tiba.&#xA;&#xA;“Hmm, oke. Jadi si wanita ini kagum akan kisah cinta orang lain?” sedikit memiringkan posisi duduknya menghadap kearahku. &#xA;&#xA;“Iya. Si wanita pemeran utama ini kagum akan kisah cinta antara si A dan B yang sebenarnya tidak terbukti juga keasliannya. Kisah antara A dan B hanyalah legenda yang beredar dimasyarakat.” kataku membuka  ceritaku malam ini.&#xA;&#xA;“Dikisahkan si A adalah anak buah dari ayah si B. Si A ditugaskan untuk mengantar si B kerumah bibinya setiap kali ayah dari B melakukan pekerjaan ilegalnya.&#xA;Satu hal yang si B tidak tahu, bahwa si A memiliki komplotan dan mengincar si B untuk diculik dan meminta uang tebusan kepada ayahnya, karena tahu bahwa ayah si B menghasilkan banyak uang dari pekerjaannya.” Kataku. Sedikit banyak menarik perhatiannya menjadi sepenuhnya kepadaku.&#xA;&#xA;“Jadi sebenarnya tujuan si A bekerja pada ayah si B adalah untuk memata-matai kebiasaan si ayah dan si B?” katanya bertanya dengan mata dikedipkan sebanyak dua kali. &#xA;&#xA;“Ya, benar. Si B digambarkan sebagai gadis polos yang manis dan pemalu. Maka ketika mereka semakin sering bertemu, ia mulai percaya kepada si A dan memohon agar memiliki waktu lebih banyak dengan si A.” &#xA;&#xA;“Oh, jadi si B jatuh cinta pada si A tanpa mengetahui bahwa si A sebenarnya orang jahat dan tidak tulus melakukan itu semua?” katanya. Kurasa dia dapat menebak jalan cerita film ini.&#xA;&#xA;“Ya. Sebenarnya kurasa, si A tulus melakukan semua hal itu. Karena—”&#xA;&#xA;“Karena ternyata si A juga jatuh cinta kepada B, dan mulai ragu akan rencana yang akan ia lakukan kepada B dan ayahnya. Apa aku benar?” belum sempat ku melanjutkan ucapanku, suara nya sudah menginterupsi dengan kalimat yang hampir enam puluh persen sama dengan apa yang akan kukatakan. &#xA;&#xA;“Ya, kau benar.” Ungkapku kepadanya.&#xA;“Tetapi akhirnya ia tetap melakukannya. Menyekap B tanpa mau melihat matanya karena ia sadar, apa yang ia lakukan adalah salah dan bahwa sebenarnya ia tidak mau melakukan hal itu. Tetapi ia sudah kepalang tanggung.”&#xA;&#xA;“Maka saat teman komplotannya berkhinat setelah berhasil mendapatkan uang dari ayah si B, ia pun tidak perduli lagi.”&#xA; &#xA;“Tepat ketika ia akan melepaskan si B dan mengantarkannya pulang seperti biasanya, si B pun berlari. Bukan karena ia takut. Tapi lebih karena ia sadar, bahwa selama ini ia sudah terperdaya.” Pikiranku kembali kepada malam aku menonton film ini. Bagaimana aku harus menahan suara tangisku saat adegan ini terputar. &#xA;&#xA;“Oke itu menyedihkan.” Balasnya singkat.&#xA;&#xA;“Iya kan? Tapi ceritanya belum selesai!” &#xA;&#xA;“Si A pun mengejarnya, berusaha untuk membuatnya berhenti, hingga saat mereka berhenti disebuah jembatan dan si B memutuskan untuk melompat ke sungai dibawah jembatan tersebut. A pun berusaha untuk mencari keberadaan B di sungai tersebut, tetapi ia tidak menemukannya. Bahkan tidak dengan jenazahnya. Dan begitu bagaimana akhirnya si A tertangkap.” Tidak perduli dengan keadaan malam ini dimana orang-orang sibuk berteriak dan tertawa, aku pun  melanjutkan,&#xA;&#xA;“Banyak orang mengatakan bahwa mereka sering melihat ekor putri duyung di sungai tersebut. Dan bagaimana orang-orang mengatakan bahwa putri duyung tersebut adalah si B yang sebenarnya berubah menjadi putri duyung yang cantik dengan ekor merah keemasannya.”&#xA;&#xA;“Oke. Tapi mengapa wanita pemeran utama sangat menyukai kisah cinta A dan B yang bahkan berakhir dengan tragis? Apa cerita nya belum selesai?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Tentu saja! Selang beberapa tahun, si A akhirnya keluar dari penjara. Ia mulai menjalani kehidupan dengan benar. Ia bekerja sebagai pengantar paket. Dan kau tahu? Sambil melakukan pekerjaannya itu, dia tetap mencari keberadaan si B karena yakin bahwa mereka akan bertemu lagi. Bahwa apa-apa yang mereka punya belum memiliki akhir.”&#xA;&#xA;“Dan begitu bagaimana ia menghabiskan sisa hidupnya. Mencari kekasihnya yang bahkan tidak diketahui status hidupnya. Orang-orang mulai membicarakan dahsyatnya cinta si A untuk si B. maka dari itu, cerita mereka menjadi legenda yang pada akhirnya sampai ke telinga wanita pemeran utama.”&#xA;&#xA;“Lalu, apa dampak kisah cinta tersebut bagi wanita pemeran utama?” katanya sambil menggosok kedua telapak tangan nya. Kurasa malam ini memang lebih dingin dari biasanya.&#xA;&#xA;“Wanita pemeran utama yang memiliki masa lalu kelam, dengan segala kesendirian dan kesedihan yang ia rasakan selama hidupnya, merasa bahwa cerita tentang si A dan si B adalah hal yang spektakular. Ia yang pada saat itu sedang dimabuk cinta kepada seorang videografer, memutuskan untuk menguji seberapa besar cinta si videografer kepadanya.” Jawabku. Memasuki bagian dimana kisah wanita pemeran utama mulai diungkit.&#xA;&#xA;“Ohh.. Jangan bilang…” katanya, menggantungkan kalimat. &#xA;&#xA;“Kalau kau berpikir bahwa wanita pemeran utama pergi menghilang, maka kau benar. Wanita pemeran utama pergi, meninggalkan secarik pesan berbunyi, &#xA;&#xA;  cari aku, jika kau mencintaiku.&#xA;&#xA;Bagian ini adalah klimaksnya. Aku sampai terbingung akan keputusannya ini. Kebanyakan orang pasti akan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah hal bodoh. Tetapi jika kau pikirkan lagi, apa salahnya jika ia ingin pembuktian akan sebesar apa cinta si videografer untuknya.&#xA;&#xA;Pertanyaannya lagi-lagi menungterupsi ku, “Ohh.. jadi dia benar-benar pergi?” katanya.&#xA;&#xA;“Yap. Dia pergi. Dan begitu bagaimana film nya berakhir.” Aku mengakhiri cerita panjangku malam ini. Menutupnya dengan pertanyaan tentang bagaimana tanggapannya tentang film tersebut. &#xA;&#xA;“Apa yang harus kukatakan. Kisah cinta tersebut memang sangat dahsyat. Bagaimana tokoh A tetap dengan pendiriannya hingga akhir hayatnya. Tetapi bagaimanapun, kurasa itu adalah karma atas kesalasalahannya yang terdahulu.” Jawabnya dengan jelas dan yakin.&#xA;&#xA;“Ya kau benar. Tetapi dia punya teman yang siap melakukan hal buruk kalau-kalau tokoh A menggagalkan perampokan itu.” &#xA;&#xA;Dan dengan itu obrolan kami berjalan hingga festival yang tadinya terlihat penuh padat menjadi sedikit lengang. Aku sendiri punya banyak sekali pandangan akan film tersebut. Kurasa aku sangat jelas mengerti perasaan yang dimiliki tokoh wanita pemeran utama. Aku terkagum akan kisah antara A dan B. Perlu kau tahu, aku menghabiskan satu pack kecil tisu saat menonton film itu. Tidak bisa menahan air mata yang dengan mudahnya lolos malam itu. Aneh karena aku tidak menangis saat orang tuaku meninggalkanku pada bibiku dihari ulang tahunku yang ke 9 tahun, aku tidak menangis ketika mainan kesukaanku dirusak oleh sepupuku.&#xA;&#xA;Tentang wanita pemeran utama yang pergi untuk menguji apakah kekasih hatinya memiliki perasaan yang cukup banyak untuknya. Entah bagaimana, tetapi kupikir itu sesuatu hal yang keren. Sudah terlalu banyak orang yang menjatuhkan harapan dan perasaannya, jadi tak apa kan, kalau ia meyakinkan hatinya dengan cara itu? Tidak apa kan jika ia sedikit egois untuk dirinya sendiri? &#xA;&#xA;Lalu satu pikiran melintas dipikiranku. Jika aku pergi seperti si wanita pemeran utama. Akankah ia mencariku?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;the man pov&#xA;&#xA;Sudah minggu ketiga semenjak kami terakhir bertemu dan ia tidak pernah datang lagi sejak saat itu. Ya, kurasa dia tidak akan pernah datang lagi. Atau mungkin akan ada suatu saat nanti, dimana ia berubah fikiran dan kembali menemuiku disini. &#xA;&#xA; Aku teringat ceritanya di minggu terakhir kita bertemu. Tentang ia yang berpikir untuk keluar dari rumah bibinya. Dan tentang film yang ia ceritakan padaku. Sudah menunggu lebih dari 30 menit, kurasa sudah cukup. Ia tidak akan muncul. &#xA;&#xA;Sebenarnya ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Tentang ketidakhadirannya yang kurasa ada sangkut pautnya dengan film itu. Kalau memang benar, tetapi mengapa? Apa ia sedang menguji rasa cintaku seperti apa yang wanita pemeran utama lakukan kepada videografer? Tapi untuk apa? Aku tidak berpikir hubungan kami sejauh itu? Mengapa ia ingin tahu seberapa besar cintaku untuknya kalau aku saja tidak memiliki rasa itu untuknya. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami adalah apa-apa yang lebih dari sebatas teman curhat. Tentu saja sangat menyenangkan untuk bercerita tentang banyak hal dengannya, tetapi hanya sebatas itu. Kurasa ia salah paham akan sikapku. Apa ini salahku juga, ya? &#xA;&#xA;Jika saja hari itu aku mengatakan lebih jelas bahwa, jika aku adalah si videografer, aku tidak akan mengejar wanita pemeran utama. Akankah ia masih disini sekarang? Seharusnya hari itu aku mengatakan, kalau aku adalah si videografer, aku tak akan mengejarnya yang tidak pasti. Aku hanya akan menunggu, sambil memikirkan tentang masa depanku dan mempertimbangkan apa yang dapat kulakukan untuk memperbaiki kehidupanku. &#xA;&#xA;Yah, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Kurasa aku hanya butuh menjalani keseharianku dengan normal dan semuanya akan kembali seperti biasa. &#xA;&#xA;Tetapi, haruskah aku tetap menunggunya setiap minggu? Kalau-kalau ia kembali dan membutuhkan seseorang untuk bercerita tentang kisahnya selama ia pergi. &#xA;Ughh, ini membingungkan. Mengapa juga aku merasa melankolis seperti ini?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;the woman pov&#xA;&#xA;Pada akhirnya, aku menyadari bahwa selama ini aku telah salah. Kurasa aku terlalu percaya diri. Terlalu yakin akan kasih sayangnya yang bahkan belum jelas terucap. Pada akhirnya aku malah menjadi seperti tokoh B. Terperdaya akan rasa bahagia yang hanya satu sisi. Salahku terlalu percaya diri dengan rasa cinta yang kupikir mutual. Terobsesi untuk merasakan dicintai begitu besarnya oleh seseorang hingga mereka sudi mengejarku kemanapun aku pergi. &#xA;&#xA;Sedari awal harusnya aku menyadari bahwa semua cerita itu tidak lebih dari sekadar video berdurasi 2 jam yang dibuat oleh seseorang terkenal yang berasal dari Hongkong, yang sialnya video itu sampai kepadaku. Kalau aku kembali dan berusaha untuk memperjuangkan apa yang hampir saja kami miliki, tanpa melakukan hal bodoh yang kusesali ini, apa ia masih bersedia?&#xA;Omong-omong, seharusnya aku menangis karena perlakuan bibi serta pamanku dan bukan karena masalah cinta seperti ini. Memang aneh.&#xA;&#xA;Ah sudahlah, yakin sekali aku ia masih menungguku hingga sekarang. Sudah lebih dari 3 minggu setelah aku pergi. Kurasa sudah cukup untuk seseorang kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal. Toh, aku bukan suatu bagian yang cukup penting untuk diingat seumur hidupnya juga.&#xA;&#xA;----&#xA;&#xA;Suzhou river (2000). go watch it.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>the woman pov</em></p>

<p>Memakai kemeja berwarna hitam yang baru saja selesai ku setrika sore ini, memikirkan jeans mana yang harus kugunakan agar setidaknya memberi sedikit nilai tambah pada penampilan ku yang, well, kau bisa bilang jauh dari kata feminine. Omong-omong saat ini aku sedang bersiap untuk pergi ke festival mingguan yang diadakan di kotaku. Setiap malam minggu, aku rutin datang ke festival itu, sekedar untuk membeli permen kapas, atau hanya untuk melihat segerombolan orang melepas penat mereka disana. Ada kesenangan sendiri untukku, melihat senyum mereka yang terlihat sangat lepas. Terutama bocah-bocah dengan tangan penuh, memegang hadiah dari permainan yang baru saja mereka menangkan, atau dengan mulut penuh makanan yang baru saja mereka beli. Aku selalu suka keramaian.</p>

<p>Sebetulnya ada satu alasan lagi. Bahkan yang satu ini dapat dibilang sebagai alasan utamaku rutin datang ke festival itu. Yaitu, keberadaan seseorang yang sedikit banyak membawa rasa senang untukku. Kebiasaannya yang akan datang tepat 25 menit setelah aku datang sepertinya cukup untukku mengingat-ingat dirinya ketika aku sedang melamun, atau ketika aku membersihkan gudang samping kamar bibi yang sudah penuh oleh debu.</p>

<p>Aku tidak tahu bagaimana awal kejadiannya. Saat itu, suatu hari dibulan May, dimana kami yang kebetulan bertemu di salah satu kedai ice cream dengan lampu besar diatasnya. Dia dengan baju berlengan panjang berwarna coklat dengan sablon smiley face di tengahnya, terlihat sepi dan menenangkan dalam waktu bersamaan. Aneh bagaimana seseorang bisa terlihat sebegitu sepinya ditengah keramaian festival yang memekakkan telinga. Dia yang aneh nya malah terlihat menarik untukku. Maka dari itu, aku memulai mengajaknya berbicara.</p>

<p>Seingatku begitu awal mula kami bisa mengenal satu sama lain dan berakhir dengan pertemuan rutin tiap minggunya di festival itu. Satu hal yang kusadari setelah sering kali bertemu dengannya adalah ia yang jauh berbeda dari kesan pertamanya. Tak disangka ia sungguh manis. Minggu lalu ia datang dengan satu tangkai bunga mawar yang ia petik sendiri dikebun tempatnya bekerja. Lain waktu ia membawa sebuah ukiran kayu membentuk huruf B yang mana huruf tersebut adalah huruf pertama dari namaku.  Kayu tersebut terlihat rapi diatas meja tidurku. </p>

<p>Ia juga tidak pernah melewatkan pertemuan kami. Dapat kupastikan, tidak ada ucapan janji untuk bertemu lagi setiap kali kami berpisah pada tiap pertemuan. Walaupun begitu, ia tetap datang. Membuatku merasakan kasih sayang yang sedikit nyata.</p>

<p>Jam 7 tepat, aku harus berangkat sekarang.</p>

<p>Tidak bisa kupungkiri, ada cukup banyak hal yang ingin kuceritakan padanya saat kami bertemu nanti. Tentang pelanggan di tempatku yang lagi-lagi mengeluh akan pintu depan toko yang berbunyi nyaring tiap kali dibuka, tentang aku yang memikirkan untuk pergi dari rumah bibiku, dan tentang film yang kutonton di malam hari dengan tambahan suara teredam pamanku yang berasal dari kamar atas, mengatakan bahwa ia sudah mulai keberatan dengan keberadaanku yang menumpang dirumah mereka (alasan lain mengapa aku memikirkan untuk pergi dari rumah itu). Apa ia tidak tahu bahwa rumahnya tidak kedap akan suara?</p>

<p>20 menit menunggu dikursi dekat kedai ice cream, dia akhirnya datang. Memakai topi yang kemarin ia dapatkan sebagai hadiah dari permainan lempar bola yang ia menangkan. Dengan jaket berwarna hitam yang memiliki kantung dikedua sisinya.</p>

<p>Duduk disisi kosong kursi, ia dengan senyum kasualnya mengangkat sebelah tangan, menyapaku. Aku pun tersenyum singkat membalasnya.</p>

<p>Sebetulnya jika kau bertanya apa aku tahu banyak tentang orang ini, maka kau akan mendapat jawaban tidak dengan intonasi super yakin dariku. Aku bahkan tidak tahu berapa umurnya, dimana ia tinggal, dan dengan siapa ia hidup. Selama ini hanya aku yang membawa topik keluarga dalam obrolan kami. Yah, setidaknya aku tahu siapa namanya.</p>

<p>Dia memulai obrolan dengan menanyakan bagaimana kabarku. Yang kubalas dengan jujur bahwa seminggu kebelakang adalah cukup berat untuk kujalani. Obrolan berlanjut dengan ia yang bercerita tentang kebun milik tuan tanah tempat ia bekerja yang kemarin baru saja kecolongan tiga keranjang apel yang lupa dimasukkan kedalam lumbung saat jam kerja hari itu telah selesai. Kasihan sekali, kuharap tuan tanahnya cukup berbaik hati untuk merelakan kejadian itu dan tidak meminta uang ganti rugi.</p>

<p><strong>“Kamu tahu, kemarin aku baru saja menonton suatu film. Film ini lain daripada yang lain. Ceritanya tentang seorang wanita yang kagum akan kisah cinta antara dua insan yang, mari kita sebut si A dan si B untuk mempermudah”</strong> kataku ketika giliranku untuk bercerita tiba.</p>

<p><strong>“Hmm, oke. Jadi si wanita ini kagum akan kisah cinta orang lain?”</strong> sedikit memiringkan posisi duduknya menghadap kearahku.</p>

<p><strong>“Iya. Si wanita pemeran utama ini kagum akan kisah cinta antara si A dan B yang sebenarnya tidak terbukti juga keasliannya. Kisah antara A dan B hanyalah legenda yang beredar dimasyarakat.”</strong> kataku membuka  ceritaku malam ini.</p>

<p><strong>“Dikisahkan si A adalah anak buah dari ayah si B. Si A ditugaskan untuk mengantar si B kerumah bibinya setiap kali ayah dari B melakukan pekerjaan ilegalnya.
Satu hal yang si B tidak tahu, bahwa si A memiliki komplotan dan mengincar si B untuk diculik dan meminta uang tebusan kepada ayahnya, karena tahu bahwa ayah si B menghasilkan banyak uang dari pekerjaannya.”</strong> Kataku. Sedikit banyak menarik perhatiannya menjadi sepenuhnya kepadaku.</p>

<p><strong>“Jadi sebenarnya tujuan si A bekerja pada ayah si B adalah untuk memata-matai kebiasaan si ayah dan si B?”</strong> katanya bertanya dengan mata dikedipkan sebanyak dua kali.</p>

<p><strong>“Ya, benar. Si B digambarkan sebagai gadis polos yang manis dan pemalu. Maka ketika mereka semakin sering bertemu, ia mulai percaya kepada si A dan memohon agar memiliki waktu lebih banyak dengan si A.”</strong></p>

<p><strong>“Oh, jadi si B jatuh cinta pada si A tanpa mengetahui bahwa si A sebenarnya orang jahat dan tidak tulus melakukan itu semua?”</strong> katanya. Kurasa dia dapat menebak jalan cerita film ini.</p>

<p><strong>“Ya. Sebenarnya kurasa, si A tulus melakukan semua hal itu. Karena—”</strong></p>

<p><strong>“Karena ternyata si A juga jatuh cinta kepada B, dan mulai ragu akan rencana yang akan ia lakukan kepada B dan ayahnya. Apa aku benar?”</strong> belum sempat ku melanjutkan ucapanku, suara nya sudah menginterupsi dengan kalimat yang hampir enam puluh persen sama dengan apa yang akan kukatakan.</p>

<p><strong>“Ya, kau benar.”</strong> Ungkapku kepadanya.
<strong>“Tetapi akhirnya ia tetap melakukannya. Menyekap B tanpa mau melihat matanya karena ia sadar, apa yang ia lakukan adalah salah dan bahwa sebenarnya ia tidak mau melakukan hal itu. Tetapi ia sudah kepalang tanggung.”</strong></p>

<p><strong>“Maka saat teman komplotannya berkhinat setelah berhasil mendapatkan uang dari ayah si B, ia pun tidak perduli lagi.”</strong></p>

<p><strong>“Tepat ketika ia akan melepaskan si B dan mengantarkannya pulang seperti biasanya, si B pun berlari. Bukan karena ia takut. Tapi lebih karena ia sadar, bahwa selama ini ia sudah terperdaya.”</strong> Pikiranku kembali kepada malam aku menonton film ini. Bagaimana aku harus menahan suara tangisku saat adegan ini terputar.</p>

<p><strong>“Oke itu menyedihkan.”</strong> Balasnya singkat.</p>

<p><strong>“Iya kan? Tapi ceritanya belum selesai!”</strong></p>

<p><strong>“Si A pun mengejarnya, berusaha untuk membuatnya berhenti, hingga saat mereka berhenti disebuah jembatan dan si B memutuskan untuk melompat ke sungai dibawah jembatan tersebut. A pun berusaha untuk mencari keberadaan B di sungai tersebut, tetapi ia tidak menemukannya. Bahkan tidak dengan jenazahnya. Dan begitu bagaimana akhirnya si A tertangkap.”</strong> Tidak perduli dengan keadaan malam ini dimana orang-orang sibuk berteriak dan tertawa, aku pun  melanjutkan,</p>

<p><strong>“Banyak orang mengatakan bahwa mereka sering melihat ekor putri duyung di sungai tersebut. Dan bagaimana orang-orang mengatakan bahwa putri duyung tersebut adalah si B yang sebenarnya berubah menjadi putri duyung yang cantik dengan ekor merah keemasannya.”</strong></p>

<p><strong>“Oke. Tapi mengapa wanita pemeran utama sangat menyukai kisah cinta A dan B yang bahkan berakhir dengan tragis? Apa cerita nya belum selesai?”</strong> tanyanya.</p>

<p><strong>“Tentu saja! Selang beberapa tahun, si A akhirnya keluar dari penjara. Ia mulai menjalani kehidupan dengan benar. Ia bekerja sebagai pengantar paket. Dan kau tahu? Sambil melakukan pekerjaannya itu, dia tetap mencari keberadaan si B karena yakin bahwa mereka akan bertemu lagi. Bahwa apa-apa yang mereka punya belum memiliki akhir.”</strong></p>

<p><strong>“Dan begitu bagaimana ia menghabiskan sisa hidupnya. Mencari kekasihnya yang bahkan tidak diketahui status hidupnya. Orang-orang mulai membicarakan dahsyatnya cinta si A untuk si B. maka dari itu, cerita mereka menjadi legenda yang pada akhirnya sampai ke telinga wanita pemeran utama.”</strong></p>

<p><strong>“Lalu, apa dampak kisah cinta tersebut bagi wanita pemeran utama?”</strong> katanya sambil menggosok kedua telapak tangan nya. Kurasa malam ini memang lebih dingin dari biasanya.</p>

<p><strong>“Wanita pemeran utama yang memiliki masa lalu kelam, dengan segala kesendirian dan kesedihan yang ia rasakan selama hidupnya, merasa bahwa cerita tentang si A dan si B adalah hal yang spektakular. Ia yang pada saat itu sedang dimabuk cinta kepada seorang videografer, memutuskan untuk menguji seberapa besar cinta si videografer kepadanya.”</strong> Jawabku. Memasuki bagian dimana kisah wanita pemeran utama mulai diungkit.</p>

<p><strong>“Ohh.. Jangan bilang…”</strong> katanya, menggantungkan kalimat.</p>

<p><strong>“Kalau kau berpikir bahwa wanita pemeran utama pergi menghilang, maka kau benar. Wanita pemeran utama pergi, meninggalkan secarik pesan berbunyi,</strong></p>

<blockquote><p>cari aku, jika kau mencintaiku.</p></blockquote>

<p>Bagian ini adalah klimaksnya. Aku sampai terbingung akan keputusannya ini. Kebanyakan orang pasti akan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah hal bodoh. Tetapi jika kau pikirkan lagi, apa salahnya jika ia ingin pembuktian akan sebesar apa cinta si videografer untuknya.</p>

<p>Pertanyaannya lagi-lagi menungterupsi ku, <strong>“Ohh.. jadi dia benar-benar pergi?”</strong> katanya.</p>

<p><strong>“Yap. Dia pergi. Dan begitu bagaimana film nya berakhir.”</strong> Aku mengakhiri cerita panjangku malam ini. Menutupnya dengan pertanyaan tentang bagaimana tanggapannya tentang film tersebut.</p>

<p><strong>“Apa yang harus kukatakan. Kisah cinta tersebut memang sangat dahsyat. Bagaimana tokoh A tetap dengan pendiriannya hingga akhir hayatnya. Tetapi bagaimanapun, kurasa itu adalah karma atas kesalasalahannya yang terdahulu.”</strong> Jawabnya dengan jelas dan yakin.</p>

<p><strong>“Ya kau benar. Tetapi dia punya teman yang siap melakukan hal buruk kalau-kalau tokoh A menggagalkan perampokan itu.”</strong></p>

<p>Dan dengan itu obrolan kami berjalan hingga festival yang tadinya terlihat penuh padat menjadi sedikit lengang. Aku sendiri punya banyak sekali pandangan akan film tersebut. Kurasa aku sangat jelas mengerti perasaan yang dimiliki tokoh wanita pemeran utama. Aku terkagum akan kisah antara A dan B. Perlu kau tahu, aku menghabiskan satu <em>pack</em> kecil tisu saat menonton film itu. Tidak bisa menahan air mata yang dengan mudahnya lolos malam itu. Aneh karena aku tidak menangis saat orang tuaku meninggalkanku pada bibiku dihari ulang tahunku yang ke 9 tahun, aku tidak menangis ketika mainan kesukaanku dirusak oleh sepupuku.</p>

<p>Tentang wanita pemeran utama yang pergi untuk menguji apakah kekasih hatinya memiliki perasaan yang cukup banyak untuknya. Entah bagaimana, tetapi kupikir itu sesuatu hal yang keren. Sudah terlalu banyak orang yang menjatuhkan harapan dan perasaannya, jadi tak apa kan, kalau ia meyakinkan hatinya dengan cara itu? Tidak apa kan jika ia sedikit egois untuk dirinya sendiri?</p>

<p>Lalu satu pikiran melintas dipikiranku. Jika aku pergi seperti si wanita pemeran utama. Akankah ia mencariku?</p>

<hr/>

<p><em>the man pov</em></p>

<p>Sudah minggu ketiga semenjak kami terakhir bertemu dan ia tidak pernah datang lagi sejak saat itu. Ya, kurasa dia tidak akan pernah datang lagi. Atau mungkin akan ada suatu saat nanti, dimana ia berubah fikiran dan kembali menemuiku disini.</p>

<p> Aku teringat ceritanya di minggu terakhir kita bertemu. Tentang ia yang berpikir untuk keluar dari rumah bibinya. Dan tentang film yang ia ceritakan padaku. Sudah menunggu lebih dari 30 menit, kurasa sudah cukup. Ia tidak akan muncul.</p>

<p>Sebenarnya ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Tentang ketidakhadirannya yang kurasa ada sangkut pautnya dengan film itu. Kalau memang benar, tetapi mengapa? Apa ia sedang menguji rasa cintaku seperti apa yang wanita pemeran utama lakukan kepada videografer? Tapi untuk apa? Aku tidak berpikir hubungan kami sejauh itu? Mengapa ia ingin tahu seberapa besar cintaku untuknya kalau aku saja tidak memiliki rasa itu untuknya. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami adalah apa-apa yang lebih dari sebatas teman curhat. Tentu saja sangat menyenangkan untuk bercerita tentang banyak hal dengannya, tetapi hanya sebatas itu. Kurasa ia salah paham akan sikapku. Apa ini salahku juga, ya?</p>

<p>Jika saja hari itu aku mengatakan lebih jelas bahwa, jika aku adalah si videografer, aku tidak akan mengejar wanita pemeran utama. Akankah ia masih disini sekarang? Seharusnya hari itu aku mengatakan, kalau aku adalah si videografer, aku tak akan mengejarnya yang tidak pasti. Aku hanya akan menunggu, sambil memikirkan tentang masa depanku dan mempertimbangkan apa yang dapat kulakukan untuk memperbaiki kehidupanku.</p>

<p>Yah, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Kurasa aku hanya butuh menjalani keseharianku dengan normal dan semuanya akan kembali seperti biasa.</p>

<p>Tetapi, haruskah aku tetap menunggunya setiap minggu? Kalau-kalau ia kembali dan membutuhkan seseorang untuk bercerita tentang kisahnya selama ia pergi.
Ughh, ini membingungkan. Mengapa juga aku merasa melankolis seperti ini?</p>

<hr/>

<p><em>the woman pov</em></p>

<p>Pada akhirnya, aku menyadari bahwa selama ini aku telah salah. Kurasa aku terlalu percaya diri. Terlalu yakin akan kasih sayangnya yang bahkan belum jelas terucap. Pada akhirnya aku malah menjadi seperti tokoh B. Terperdaya akan rasa bahagia yang hanya satu sisi. Salahku terlalu percaya diri dengan rasa cinta yang kupikir mutual. Terobsesi untuk merasakan dicintai begitu besarnya oleh seseorang hingga mereka sudi mengejarku kemanapun aku pergi.</p>

<p>Sedari awal harusnya aku menyadari bahwa semua cerita itu tidak lebih dari sekadar video berdurasi 2 jam yang dibuat oleh seseorang terkenal yang berasal dari Hongkong, yang sialnya video itu sampai kepadaku. Kalau aku kembali dan berusaha untuk memperjuangkan apa yang hampir saja kami miliki, tanpa melakukan hal bodoh yang kusesali ini, apa ia masih bersedia?
Omong-omong, seharusnya aku menangis karena perlakuan bibi serta pamanku dan bukan karena masalah cinta seperti ini. Memang aneh.</p>

<p>Ah sudahlah, yakin sekali aku ia masih menungguku hingga sekarang. Sudah lebih dari 3 minggu setelah aku pergi. Kurasa sudah cukup untuk seseorang kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal. Toh, aku bukan suatu bagian yang cukup penting untuk diingat seumur hidupnya juga.</p>

<hr/>

<p>Suzhou river (2000). go watch it.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/the-woman-pov</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Feb 2022 15:59:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Shift Malam</title>
      <link>https://beoningpages.writeas.com/aku-mengunci-pintu-ruang-kerjaku-dan-bersiap-untuk-memulai-mengerjakan-semua?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Aku mengunci pintu ruang kerjaku dan bersiap untuk memulai mengerjakan semua tugas yang menungguku. Malam ini giliranku mendapatkan shift malam.&#xA;&#xA;Sial. Rutuk ku. &#xA;&#xA;Sebagai pegawai rumah sakit, mendapat shift malam adalah hal terburuk. Selain rasa malas yang terkadang melanda, image rumah sakit sebagai tempat yang menyeramkan terkadang sedikit mempengaruhiku.&#xA;&#xA;Aku menyalakan televisi agar setidaknya ada suara yang menemaniku malam ini. Ya, aku sendirian. Setiap karyawan di unit kerjaku ini selalu sendiri ketika shift malam. Hal ini dikarenakan jumlah karyawan di unitku yang lebih sedikit dibanding unit lain. !--more--&#xA;&#xA;Aku memakai kacamataku, membolak-balik berkas yang kupegang dengan kedua tangan, sebelum akhirnya mengetik beberapa poin penting untuk dibicarakan esok hari. Seperti itu terus sampai ada saatnya aku merasa pegal atau bosan dan akhirnya memutuskan untuk sedikit meregangkan badanku ataupun berjalan untuk sekadar meluruskan kaki atau mengambil air minum.&#xA;&#xA;Tik..Tok..Tik..Tok...&#xA;&#xA;Sunyi sekali, fikirku. Suara jarum jam pun tedengar sangat jelas di telingaku. &#xA;&#xA;Memeluk tubuhku yang diterpa hawa dingin Air Conditioner dan melihat acara televisi yang sedang tayang. Lewat prime time biasanya acara televisi hanya berisi berita atau beberapa acara yang ditayangkan ulang. &#xA;&#xA;Menekan remote, mengganti channel sebelum akhirnya aku berenti di satu channel yang menayangkan film action dengan Denzel Washington sebagai pemeran utamanya. Baru saja aku memfokuskan diriku pada film tersebut, iklan muncul yang dilanjutkan dengan tayangan sekilas berita.&#xA;Aku pun akhirnya memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaanku. Siapa tahu arwah baik menghampiriku dan membantuku menyelesaikan ini semua dengan cepat agar aku bisa melelapkan mataku sedikit saja. &#xA;&#xA;oke, ayo kembali bekerja! Kataku dalam hati. &#xA;&#xA;Tak lama ada bunyi pintu terdorong. Aku yang sedang fokus kepada komputerku langsung mengalihkan pandangan untuk melihat siapakah yang datang di... &#xA;&#xA;Jam 1 malam!&#xA;&#xA;“Mbak Sena, serius sekali.” Kata perempuan itu.&#xA;&#xA;“Hehehe iya Sel, aku mau selesaikan tugasku ini cepat-cepat. Siapa tahu dapat tidur barang 15 menit saja.” Kataku menanggapi perkataan perempuan itu.&#xA;&#xA;Omong-omong dia ini Selena. Kami tidak satu bagian, tetapi kami saling kenal karena unitnya yang hanya berjarak dua ruangan dari unitku. Kami sering pergi untuk makan siang bersama atau sekadar berbincang ketika bertemu dilorong rumah sakit.&#xA;&#xA;“Kamu sendiri mau kemana?” Tanyaku kepadanya.&#xA;&#xA;“Aku habis ke toilet. Karena dengar ada suara televisi dari ruangan mbak, dan setelah kuintip ternyata yang dinas malam adalah mbak jadi aku memutuskan untuk menyapa mbak sebentar.” katanya melihat kearahku.&#xA;&#xA;Pekerjaanku pun sedikit teralihkan karena kedatangannya. Tapi tak apa, toh, dilorong depan juga sedikit terlalu sepi. Walaupun sudah terbiasa mendapatkan shift malam sendirian, tetap saja terkadang aku merasa sedikit was-was. Ditambah lagi ruanganku yang letaknya agak terpencil dari lobby depan. Walaupun ada suara berisik dari luar tetapi akan terasa lebih sunyi karena tidak banyak orang yang lalu-lalang.&#xA;&#xA;“Wah lihat berita itu mbak! Bagaimana bisa seseorang tertidur begitu lelapnya hingga lupa jika ia sedang memasak sesuatu!” kata Selena hampir berteriak.&#xA;&#xA;Aku pun melihat televisi yang sedang menampilkan berita kebakaran rumah akibat keteledoran sang empunya rumah.&#xA;&#xA;“Yah, itu akibatnya jika kita teledor. Oh, atau bisa jadi ia merupakan pasien alzheimer ringan atau punya penyakit lupa?” jawabku santai sambil kembali sibuk dengan pekerjaanku.&#xA;&#xA;“Ya, bisa jadi sih.” Balasnya setuju dengan perkataanku.&#xA;&#xA;Setelah itu Selena dan aku mengobrol beberapa hal lain. Ia menanyakan kabar anakku dan aku menanyakan kabar orang tuanya. Selena ini anak yang baik dan ramah. Pembawaannya sopan dan lemah lembut. Tipe orang yang mungkin tidak pernah marah akan suatu hal selama hidupnya. Yah, mungkin aku berlebihan.&#xA;&#xA;“Jadi ini semua adalah berkas yang akan mbak kerjakan malam ini?” tanyanya sambil menunjuk berkas yang ada disamping komputerku.&#xA;&#xA;“Iya. Bagianku jadi sedikit sibuk belakangan ini. Makanya kami sebisa mungkin membagi tugas secara adil.” Kataku menjelaskan sambil kembali fokus dengan komputerku. &#xA;&#xA;Lalu aku melanjutkan, “Tapi jika takdir berkehendak lain dan berakhir dengan aku yang tidak bisa menyelesaikan ini semua dalam semalam. Aku bisa apa kan?” melihat kearahnya dan mengedipkan satu mataku. Selena hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja ku katakan.&#xA;&#xA;Cukup lama kami mengobrol sebelum akhirnya ia berpamitan untuk kembali ke ruangannya.&#xA;&#xA;“Okedeh mbak. Aku balik ke ruanganku dulu ya.” Katanya sambil langsung menoleh kearah pintu. Aneh. Pikirku. Kenapa dia terlihat sangat kaku?&#xA;&#xA;“Ohh oke, biarku kunci pintunya.” Jawabku sambil mengikutinya kearah pintu, dan melambaikan tanganku kepunggung nya. &#xA;Dia bahkan tidak menoleh barang sedikit pun sebelum berjalan kearah ruangannya?&#xA;&#xA;Yah masa bodoh, kupikir. Mungkin dia tiba-tiba teringat sesuatu yang penting yang harus segera ia kerjakan.&#xA;&#xA;Huh, kenapa malam ini dingin sekali. &#xA;Bulu kudukku rasanya sampai berdiri. &#xA;Apa karena AC ruanganku terlalu besar, ya? Aku harus segera mengeceknya.&#xA;&#xA;Akupun kembali mengunci pintu ruanganku, dan membesarkan volume televisi diruanganku.&#xA;&#xA;-------------------------------------------&#xA;&#xA;this is somekind of a riddle. find the anomaly.&#xA;btw, https://secreto.site/id/a8j9b tell me if you find something heheh]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Aku mengunci pintu ruang kerjaku dan bersiap untuk memulai mengerjakan semua tugas yang menungguku. Malam ini giliranku mendapatkan shift malam.</p>

<p><em>Sial.</em> Rutuk ku.</p>

<p>Sebagai pegawai rumah sakit, mendapat shift malam adalah hal terburuk. Selain rasa malas yang terkadang melanda, image rumah sakit sebagai tempat yang menyeramkan terkadang sedikit mempengaruhiku.</p>

<p>Aku menyalakan televisi agar setidaknya ada suara yang menemaniku malam ini. Ya, aku sendirian. Setiap karyawan di unit kerjaku ini selalu sendiri ketika shift malam. Hal ini dikarenakan jumlah karyawan di unitku yang lebih sedikit dibanding unit lain. </p>

<p>Aku memakai kacamataku, membolak-balik berkas yang kupegang dengan kedua tangan, sebelum akhirnya mengetik beberapa poin penting untuk dibicarakan esok hari. Seperti itu terus sampai ada saatnya aku merasa pegal atau bosan dan akhirnya memutuskan untuk sedikit meregangkan badanku ataupun berjalan untuk sekadar meluruskan kaki atau mengambil air minum.</p>

<p><em>Tik..Tok..Tik..Tok...</em></p>

<p>Sunyi sekali, fikirku. Suara jarum jam pun tedengar sangat jelas di telingaku.</p>

<p>Memeluk tubuhku yang diterpa hawa dingin Air Conditioner dan melihat acara televisi yang sedang tayang. Lewat prime time biasanya acara televisi hanya berisi berita atau beberapa acara yang ditayangkan ulang.</p>

<p>Menekan remote, mengganti channel sebelum akhirnya aku berenti di satu channel yang menayangkan film action dengan Denzel Washington sebagai pemeran utamanya. Baru saja aku memfokuskan diriku pada film tersebut, iklan muncul yang dilanjutkan dengan tayangan sekilas berita.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaanku. Siapa tahu arwah baik menghampiriku dan membantuku menyelesaikan ini semua dengan cepat agar aku bisa melelapkan mataku sedikit saja.</p>

<p><em>oke, ayo kembali bekerja!</em> Kataku dalam hati.</p>

<p>Tak lama ada bunyi pintu terdorong. Aku yang sedang fokus kepada komputerku langsung mengalihkan pandangan untuk melihat siapakah yang datang di...</p>

<p><strong>Jam 1 malam!</strong></p>

<p><strong>“Mbak Sena, serius sekali.”</strong> Kata perempuan itu.</p>

<p><strong>“Hehehe iya Sel, aku mau selesaikan tugasku ini cepat-cepat. Siapa tahu dapat tidur barang 15 menit saja.”</strong> Kataku menanggapi perkataan perempuan itu.</p>

<p>Omong-omong dia ini Selena. Kami tidak satu bagian, tetapi kami saling kenal karena unitnya yang hanya berjarak dua ruangan dari unitku. Kami sering pergi untuk makan siang bersama atau sekadar berbincang ketika bertemu dilorong rumah sakit.</p>

<p><strong>“Kamu sendiri mau kemana?”</strong> Tanyaku kepadanya.</p>

<p><strong>“Aku habis ke toilet. Karena dengar ada suara televisi dari ruangan mbak, dan setelah kuintip ternyata yang dinas malam adalah mbak jadi aku memutuskan untuk menyapa mbak sebentar.”</strong> katanya melihat kearahku.</p>

<p>Pekerjaanku pun sedikit teralihkan karena kedatangannya. Tapi tak apa, toh, dilorong depan juga sedikit terlalu sepi. Walaupun sudah terbiasa mendapatkan shift malam sendirian, tetap saja terkadang aku merasa sedikit was-was. Ditambah lagi ruanganku yang letaknya agak terpencil dari lobby depan. Walaupun ada suara berisik dari luar tetapi akan terasa lebih sunyi karena tidak banyak orang yang lalu-lalang.</p>

<p><strong>“Wah lihat berita itu mbak! Bagaimana bisa seseorang tertidur begitu lelapnya hingga lupa jika ia sedang memasak sesuatu!”</strong> kata Selena hampir berteriak.</p>

<p>Aku pun melihat televisi yang sedang menampilkan berita kebakaran rumah akibat keteledoran sang empunya rumah.</p>

<p><strong>“Yah, itu akibatnya jika kita teledor. Oh, atau bisa jadi ia merupakan pasien alzheimer ringan atau punya penyakit lupa?”</strong> jawabku santai sambil kembali sibuk dengan pekerjaanku.</p>

<p><strong>“Ya, bisa jadi sih.”</strong> Balasnya setuju dengan perkataanku.</p>

<p>Setelah itu Selena dan aku mengobrol beberapa hal lain. Ia menanyakan kabar anakku dan aku menanyakan kabar orang tuanya. Selena ini anak yang baik dan ramah. Pembawaannya sopan dan lemah lembut. Tipe orang yang mungkin tidak pernah marah akan suatu hal selama hidupnya. Yah, mungkin aku berlebihan.</p>

<p><strong>“Jadi ini semua adalah berkas yang akan mbak kerjakan malam ini?”</strong> tanyanya sambil menunjuk berkas yang ada disamping komputerku.</p>

<p><strong>“Iya. Bagianku jadi sedikit sibuk belakangan ini. Makanya kami sebisa mungkin membagi tugas secara adil.”</strong> Kataku menjelaskan sambil kembali fokus dengan komputerku.</p>

<p>Lalu aku melanjutkan, <strong>“Tapi jika takdir berkehendak lain dan berakhir dengan aku yang tidak bisa menyelesaikan ini semua dalam semalam. Aku bisa apa kan?”</strong> melihat kearahnya dan mengedipkan satu mataku. Selena hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja ku katakan.</p>

<p>Cukup lama kami mengobrol sebelum akhirnya ia berpamitan untuk kembali ke ruangannya.</p>

<p><strong>“Okedeh mbak. Aku balik ke ruanganku dulu ya.”</strong> Katanya sambil langsung menoleh kearah pintu. <em>Aneh.</em> Pikirku. Kenapa dia terlihat sangat kaku?</p>

<p><strong>“Ohh oke, biarku kunci pintunya.”</strong> Jawabku sambil mengikutinya kearah pintu, dan melambaikan tanganku kepunggung nya.
Dia bahkan tidak menoleh barang sedikit pun sebelum berjalan kearah ruangannya?</p>

<p>Yah masa bodoh, kupikir. Mungkin dia tiba-tiba teringat sesuatu yang penting yang harus segera ia kerjakan.</p>

<p>Huh, kenapa malam ini dingin sekali.
Bulu kudukku rasanya sampai berdiri.
Apa karena AC ruanganku terlalu besar, ya? Aku harus segera mengeceknya.</p>

<p>Akupun kembali mengunci pintu ruanganku, dan membesarkan volume televisi diruanganku.</p>

<hr/>

<p>this is somekind of a riddle. find the anomaly.
btw, <a href="https://secreto.site/id/a8j9b" rel="nofollow">https://secreto.site/id/a8j9b</a> tell me if you find something heheh</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://beoningpages.writeas.com/aku-mengunci-pintu-ruang-kerjaku-dan-bersiap-untuk-memulai-mengerjakan-semua</guid>
      <pubDate>Tue, 07 Dec 2021 14:17:33 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>